“Dia tinggal sendirian kah?”
“Setahuku sih memang sendiri, aku nggak begitu tahu soalnya aku juga baru menemukan rumah ini tadi pagi, dan tak ada orang selain dia di rumah ini,” terangku ketika salah satu temanku bertanya perihal perempuan yang sedang duduk di atas amben sambil kedua tangannya sibuk menggelung rambutnya yang warnanya telah memutih semua.

“Eh, makanannya di mana, sih?”
“Iya, mana makanan lezat yang kamu ceritakan itu?”
“Kita sudah sangat lapar,”
“Sabar, tunggu sebentar, hehe,” aku berusaha menenangkan teman-temanku yang sudah tak sabar dan tampak kelaparan.
Kemudian aku pun mengajak teman-temanku merayap ke atas meja yang terbuat dari bambu. Meja yang jaraknya dengan perempuan itu tak begitu jauh. Meja yang di atasnya ada sebuah piring kaca bening berisi potongan roti yang cukup banyak.
“Wah, ini makanan favoritku,”
“Favorit aku juga,”
“Eh, tapi tunggu dulu, gimana kalau nanti perempuan itu memergoki kita,”
“Benar juga, aduh gimana, nih? Aku takut entar dia marah dan nyawa kita terancam,”
Aku tersenyum dan lagi-lagi berusaha menenangkan teman-temanku yang tiba-tiba berubah begitu cemas.
“Tenang, perempuan itu nggak kayak orang-orang yang pernah kita jumpai, kok, dia perempuan baik yang nggak tega menyakiti binatang kecil seperti kita,” aku terdiam sejenak. Kembali teringat beberapa jam yang telah lewat, saat kepergok sedang mencongkel potongan roti dalam piring tersebut.
Waktu itu aku sangat ketakutan dan sudah pasrah dengan apa yang bakal terjadi. Tapi rupanya semua di luar perkiraan. Ternyata aku keliru. Aku mengira perempuan itu sama seperti manusia-manusia kebanyakan yang tega membunuh teman-teman sebangsaku hanya gara-gara ketahuan mengambil sedikit saja makanan milik mereka.
Anehnya, justru perempuan yang jalannya masih tegap tanpa bantuan tongkat itu malah menatapku sambil tersenyum. Alih-alih mengusir atau langsung melenyapkanku, dia malah duduk sambil memandangku dengan wajah berlumur senyum.
“Makanlah sepuasmu, kalau perlu kabari teman-temanmu untuk datang ke sini, aku akan menyediakan makanan untuk kalian setiap hari,” ucap perempuan itu masih dengan rekahan senyum di bibirnya yang sudah mengeriput.
Aku menatap perempuan yang wajahnya seperti mengeluarkan cahaya itu dengan takjub. Selama ini bangsa kami tak pernah bisa memahami bahasa manusia. Tapi entah mengapa, waktu itu aku kok tiba-tiba bisa memahami apa yang perempuan itu ucapkan. Makanya, aku buru-buru pulang ke sarang untuk mengabarkan berita gembira ini.
***
