Acara wisudaku tinggal menghitung menit akan segera dimulai. Dan aku begitu gugup karena Peri Kecilku belum juga datang. Aku terus menghubunginya, namun yang menjawab hanya operator yang memberitahukan bahwa nomornya sedang tidak aktif. Aku menelepon mamanya, namun juga tidak diangkat. Mamaku yang sedang berdiri cemas di belakangku menghampiriku.
“Gimana, Ri, apakah Riani akan datang? Apakah dia sedang ada masalah di jalan?” tanya mamaku bertubi-tubi yang bahkan tak sempat kucerna. Aku begitu khawatir padanya. Dan tak pernah perasaanku sekacau ini ketika menunggunya datang. Mamaku sendiri sudah menganggap Riani sebagai anaknya. Jadi sangat wajar kalau mama juga begitu khawatir padanya.

“Mama, hpnya Riani nggak aktif. Tadi aku juga sudah telepon mamanya, tapi nggak diangkat.”
Di acara wisuda kali ini, papaku tidak bisa dating karena sedang bertugas di luar kota dan sedang ada halangan untuk pulang. Aku bisa memahami keadaannya. Lagian sekarang aku ini bukan lagi anak kecil yang harus marah dan merengek manja jika orang tuanya tidak bisa datang dalam acara pentingnya. Lagian juga masih ada mama yang setia berdiri di sampingku dan menguatkan aku.
Acara wisuda di sekolahku berjalan dengan lancar. Aku dinobatkan sebagai siswa dengan nilai terbaik pertama di jurusanku. Dan semua itu tanpa disaksikan oleh Peri Kecilku. Ke mana Peri Kecilku pergi? Kenapa tiba-tiba menghilang begitu saja di saat terakhirku? Kenapa dia malah tidak hadir di saat yang sangat membahagiakan untukku?
Aku memutuskan untuk menuju rumahnya sepulang dari sekolah. Tentu saja masih dengan mamaku. Memang sudah lama, aku tidak mengajak Riani ke rumahku, dan otomatis mamaku tidak pernah bertemu dengannya. Tentu saja dia rindu pada Rianiku. Riani, Peri Kecilku.
Sampai di depan rumahnya, ada seorang tetangga yang sudah tak asing lagi bagiku. Dia memberitahuku sesuatu yang bahkan tidak pernah kuduga sebelumnya.
“Neng Riani lagi di rumah sakit, katanya sih mau operasi gitu,” katanya setelah kutanya di mana Riani.
“Operasi apa?” tanyaku kembali pada seseorang yang kukenal namanya Tante Diah. Setahuku, Riani tidak pernah punya riwayat sakit apa pun. Apa mungkin dia menyembunyikan penyakitnya dariku selama ini.
Tanpa pikir panjang, aku dan mama langsung saja meluncur ke rumah sakit yang sudah disebutkan alamatnya oleh Tante Diah tadi. Dan kukira, aku sudah terlambat saat sampai di rumah sakit itu. Riani, Peri Kecilku, dia sudah tidak lagi bernyawa.
Hatiku terasa mencelos ingin lepas dari tubuhku mengetahui kenyataan itu. Riani begitu pandai menutupi lukanya. Ceria di matanya tidak pernah pudar meski dia menderita sakit separah itu. Riani menderita kanker otak stadium akhir. Jadi, dari cerita mamanya, saat aku sibuk mempersiapkan diri untuk menghadapi UN, Rianiku juga sedang sibuk melakukan pengobatan untuk menyembuhkan kanker yang menggerogoti tubuhnya.
Di saat terakhirnya, dia melakukan operasi donor mata untuk saudaranya yang telah lama menderita kebutaan. Aku teringat akan surat yang dia berikan setelah UN dulu. Dan aku membukanya sekarang. Di samping makamnya. Membaca setiap kalimat yang rasanya semakin lama semakin menghabisi hatiku. Bagaimana aku tidak menyadari penyakitnya selama ini?
Dear, Aria
Pangeranku
Pada kesempatan kali ini, aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu. Sebuah kebenaran yang selama ini aku simpan rapi. Sendirian. Kak, mungkin saat Kakak membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Aku tahu kakak marah padaku karena aku tidak mengatakan kebenaran ini sejak awal.
Kak, ketahuilah. Aku sangat menyayangkan kalau binar cinta dan kebahagiaan yang ada dalam matamu itu pudar karena khawatir dengan penyakit yang kuderita. Maaf karena aku tidak bisa datang di acara paling pentingmu selama tiga tahun berada di sekolah. Selamat karena sudah mampu melampaui batas. Aku tahu, pangeranku pastilah yang terbaik. Dalam hal apa pun.
O, ya. Aku mendonorkan mataku untuk saudaraku, Disha. Aku tahu, kakak tidak ingin kehilangan mataku. Maka, jika rindu padaku kakak bisa melihat mataku dalam kelopak Disha. Jangan menangisi kepergianku. Percayalah, bahwa apa pun yang terjadi dalam semesta ini adalah takdir Ilahi. Tersenyumlah, untukku dan juga binar keceriaan yang selalu kau kagumi selama ini.
Selamat tinggal, aku mencintaimu.
