***
Aku tak sepenuhnya ingat… apa yang terjadi setelah tubuhku melayang di udara, jatuh ke jurang yang gelap menganga. Seperti layar yang tiba-tiba gelap, semua lenyap tanpa jejak.

Dan kini— aku terbaring, tubuh terasa lemah, seolah hanya tinggal setengah nyawa. Kulihat atap putih… bau obat menusuk hidung. Ada selang oksigen melilit di lubang hidungku. Infus tergantung di lengan kiriku.
Di sampingku, seorang perempuan tertidur dengan kepala bersandar di tepi ranjang. Tanganku digenggam erat olehnya. Napasnya lembut, sesekali tersengal di sela-sela isakan pelan.
Dengan sisa tenaga, kubisikkan panggilan lemah: “Ibu…?”
Ia tersentak, matanya terbuka lebar. Wajah lelahnya seketika berubah cerah penuh haru.
“Yami…! Yami sayang!” serunya. Air mata berjatuhan begitu saja. Ia segera berlari keluar memanggil dokter.
Tak lama kemudian, dokter masuk bersama ibu. Setelah serangkaian pemeriksaan singkat, ibu duduk di sisiku, masih dengan mata yang basah.
“Ibu… bagaimana aku bisa di sini?” tanyaku, suara serak dan nyaris tercekat.
Ibu mengelus lembut kepalaku. “Yami sayang… kamu tiba-tiba pingsan di ruang tamu. Ibu dan ayah langsung membawamu ke rumah sakit,” suaranya bergetar.
“Dokter bilang kamu harus segera dioperasi… kanker otakmu sudah parah. Alhamdulillah… operasinya berjalan lancar. Tapi kau koma… sudah satu minggu lebih… dan baru hari ini kamu membuka mata. Ibu… Ibu bersyukur sekali…” ucapnya sambil menangis. Air mata bahagia dan luka bercampur di pipinya.
Aku terdiam. Kanker… operasi… koma… Tapi… bukankah aku— jatuh ke dalam jurang? Suara lirihku terucap tanpa sadar:
“Bukankah aku… jatuh ke jurang…?”
Ibu mengerutkan kening, gelisah.
“Kamu ngomong apa, Nak? Sudah… jangan pikirkan dulu. Tenangkan dirimu, hemat tenaga. Ibu panggil Ayah dulu, ya…” katanya, mencium keningku, lalu berlalu keluar ruangan.
Aku kembali terdiam. Pikiran berputar-putar. Kacau. Kalau begitu… semua yang kualami… perjalanan di hutan, rumah bambu, Paman Goethe… semua itu… mimpi?
Tapi—mengapa rasanya begitu nyata?
Mengapa tiap kata, tiap pertemuan… terasa seolah sungguh-sungguh terjadi?
Dan… siapa sebenarnya Paman Goethe itu?
Dari mana hadirnya dalam benakku?
Ia menjawab pertanyaan-pertanyaan yang selama ini mengendap dalam pikiranku…
Ia berkata tentang Tuhan… tentang keberadaan… tentang makna di balik penciptaan… Bukankah itu semua yang membuat kepalaku sering sakit? Yang terus-menerus kurenungi hingga memaksaku berpikir tanpa henti?
Kini aku mengerti. Mungkin… itu adalah jawaban Tuhan, yang disampaikan lewat dunia mimpiku… lewat perjalanan yang begitu aneh… namun kaya akan makna.
Perjalanan yang kurasakan di antara hidup dan mati… antara sadar dan tak sadar adalah pelajaran yang begitu dalam, begitu berharga.
Aku menatap langit-langit putih ruangan itu, sambil berbisik lirih dalam hati: “Terima kasih, Tuhan… atas jawaban yang Kau beri… atas kesehatan yang Kau pulihkan… atas pelajaran yang akan kuingat sepanjang hidupku.”
Saat itu, dokter masuk lagi. Langkahnya tenang, wajah teduh, suara berat yang amat kukenal. Tanpa sadar, kuucapkan:
“Paman… Goethe…?”
Ia hanya tersenyum samar. “Kau sudah sadar, Yami… itu bagus.”
Pikiran dalam kepalaku berputar—bagaimana mungkin? Apakah semua hanya mimpi… ataukah dunia ini yang sesungguhnya ilusi?
Sebelum sempat bertanya, ia menepuk pelan bahuku. “Sudahlah… jangan terlalu banyak berpikir. Istirahatlah… pemulihanmu masih panjang.”
Ia berlalu, pintu tertutup perlahan.
Di keheningan, aku hanya bisa memandang langit-langit yang putih. Pertanyaan demi pertanyaan mengendap dalam benak—mana yang nyata, mana yang mimpi?
Siapa Paman Goethe sesungguhnya?
Mungkin… memang tak semua pertanyaan perlu terjawab. Atau… mungkin, jawabannya memang tak pernah ada. Di antara batas samar mimpi dan kenyataan—di sanalah, mungkin… aku masih berada.
Sumber ilustrasi: pexels.
