Setelah beberapa waktu, mereka berdua tiba di kediaman Kiai Ali. Di sana, mereka mendapati banyak tamu, bahkan tamunya sampai datang dari luar daerah. Menurut orang, Kiai Ali adalah tokoh agama yang disegani oleh masyarakat setempat. Orang yang linuwih dan alim. Memiliki pesantren. Tamunya datang dan pergi.
Anto dan Pak Karsun dikejutkan dengan kehadiran orang tua yang dianggap orang gila yang mereka tinggalkan tadi. Anto seperti tidak percaya apa yang dilihatnya. Demikian dengan Pak Karsun yang terbengong melihat orang tua itu.

Tiba-tiba muncul Kiai Ali. Ia berjalan tergesa-gesa menuju orang tua itu. Ia mencium tangannya. Dia menyambutnya dengan penuh kebahagiaan, penuh kebanggaan. Para tamu dan beberapa santrinya dibuat heran, termasuk Pak Karsun dan Anto. Kiai Ali menggandeng masuk orang tua itu.
Sementara Pak Karsun dan Anto masih di halaman rumah Kiai Ali, tidak berani masuk. Setelah sekian lama, laki-laki tua itu keluar dari kediaman dengan diantar Kiai Ali. Setelah lelaki itu pergi, mereka baru masuk. Setelah masuk, mereka segara bersalaman dan menghadap dengan lelaki sepuh itu.
“Sari itu wanita baik-baik. Jangan termakan omongan orang yang belum tentu benar. Sebelum ada buktinya, kalian jangan menuduh orang sembarangan,” kata Kiai Ali.
Pak Karsun dan Anto dibuat terkejut. Mereka membatin bagaimana Kiai Ali tahu kalau kami hendak membicarakan hal itu. Mereka berdua saling tatap. Anto menelan ludah.
“Kalian telah berdosa, karena telah beranggapan bahwa Sari adalah wanita penghibur. Asal kalian tahu, bahwa anaknya memang hasil dari pernikahan yang sah. Suami Sari meninggal saat ia hamil,” lanjutnya.
“Bagaimana Kiai Ali tahu, jika Sari adalah wanita baik-baik?” tanya Pak Karsun.
“Orang tua yang kamu anggap gila dan kalian usir itu, yang memberi tahu. Tahukah kalian yang kalian usir itu sebenarnya Nabi Khidir yang menjelma sebagai orang gila?!”
Pak Karsun dan Anto kembali menelan ludah dan menyesal seketika. Penyesalan itu, berlangsung selama berhari-hari. Dan, mereka bersyukur telah bertemu dengan Nabi Khidir.
