Karena itu, jumlah santri dapat dihitung dengan jari. Hanya beberapa. Bahkan, hingga 1967, jumlah santri cuma tiga orang. Seiring berjalannya waktu, jumlah santri memang terus bertambah. Tapi tiap tahun, tambahan santri baru hanya sekitar 2-3 orang. Saat ini pun, jumlah santri di pesantren ini kurang dari 50 orang!
Namun begitu, KH Alimuddin tetap istiqomah. Tetap bersemangat dalam mendidikan dan mengayomi seluruh santri. Terutama dalam menanamkan nilai-nilai ketuhanan. Tekadnya tetap kuat untuk mengarahkan seluruh santrinya menjadi insan sempurna, yang meneladani akhlak Nabi dan ahli zikir.

Yang menarik adalah latar belakang para santri yang mondok di Pesantren Pancoran Emas Daramista ini. Kebanyakan dari mereka adalah remaja-remaja nakal dan berandalan. Ada yang pecandu narkoba, tukang sabung ayam, tukang judi, atau pencuri. Tapi yang datang dari golongan orang baik-baik saja juga ada, termasuk yang berpunya.
Rupanya, tujuan mereka nyantri di Pesantren Pancoran Emas Daramista ini bukan sekadar berniat menimba ilmu, melainkan, dan ini yang lebih utama, mencari jalan untuk menjadi orang baik, menemukan jati diri, membangun kesadaran diri, agar hidup di jalan yang benar dan memperoleh kebahagian sejati.
