Inilah bagian menariknya dari pesantren salaf murni ini. Selain mengaji, ratusan santri di sini juga diajari dan dididik untuk menguasai berbagai keterampilan. Tujuannya, agar para memiliki multitalenta sebagai bekal hidup setelah lulus dari pesantren.
Setidaknya, ada dua program pokok yang dikembangkan di luar urusan mengaji kitab kuning. Yaitu, santri menguasai pertanian dan manajemen pemasaran dan perdagangan. Untuk itu, pihak pondok juga menyiapkan lahan-lahan pertanian dan peternakan yang dikelola dan dibudidayakan oleh para santri.

Pesantren ini memang berdiri di atas lahan seluas 4 hektare. Namun, yang dimanfaatkan untuk bangunan dan gedung hanya sekitar 1,5 hektare. Sisanya, 3,5 hektare, dibudidayakan sebagai lahan pertanian, seperti untuk kebun, sawah, dan kolam. Lahan pertanian itu dikelola oleh para santri dan produksi pertaniannya juga dipasarkan oleh santri.
Keuntungan dari usaha ini digunakan untuk membiayai kegiatan pesantren. Dengan begitu, praktis, seluruh santri dapat belajar di pondok secara gratis. Di samping itu, begitu lulus dari pesantren, para santri juga telah memiliki bekal yang cukup untuk hidup mandiri.
Inilah salah satu potret pesantren salaf yang eksis dan mandiri.
