“Memangnya apa hubungannya, pohon pengetahuan dengan membaca buku?” tanyaku.
“Tentu sangat berkaitan. Pohon pengetahuan itu akan tumbuh subur bila kamu gemar membaca, sebab kalau kamu membaca buku, maka pengetahuanmu akan bertambah,” jawab ayah.

Aku terdiam. Otakku masih belum menemukan jawaban atas ucapan itu. Tetapi aku terus mengais-ngais nalar untuk mencoba memahami ucapan itu.
***
Pohon pengetahuan itu tumbuh menjulang. Kokoh. Buah pohon itu selalu dipetik oleh orang-orang. Pohon itu rindang. Setelah belasan tahun aku dan ayahku menanamnya, kami berdua bisa merasakan kesejukan. Sepanjang hari, orang-orang akan meminta izin kepadaku untuk memetik buah pengetahuan itu. Aku tidak pernah meminta ganti atas buah yang mereka petik.
Sebelum ayah mangkat, ia berwasiat padaku, untuk menguburkannya tepat di bawah pohon pengetahuan itu. Aku tidak bisa menolaknya. Sebelum ia meninggal, ia berkata, “Lihatlah, uban di kepala ayah sudah rata. Gigi ayah sudah ompong. Kulit-kulit ayah sudah mengendur dan tenaga ayah sedikit demi sedikit semakin melemah. Tubuh akan binasa, tapi pengetahuan akan selalu hidup dan memberi manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.”
Delapan belas tahun sudah ayah pergi. Kuburannya masih dinaungi pohon pengetahuan yang rindang —sejuk dan damai. Beberapa helai daun gugur di atas kuburan ayah. Angin bertiup pelan, membawa aroma bunga kuncup buah pengetahuan itu— harum. Musim gugur telah usai berganti musim bersemi.
