Pos Kamling

“Alhamdulillah. Haji Ali memang selalu hadir ketika umatnya membutuhkan nasihat,” celetuk Beni sumringah.

Haji Ali meminta Beni agar mengajak anggota jaga malam di kampung itu untuk menelisik sumber bau busuk yang dikabarkan oleh Beni dan Soleh sewaktu membenahi saluran pipa air pagi tadi. Haji Ali memang orang berpengaruh di tempat itu. Omongannya menjadi semacam sabda panditaning ratu tan kena wola-wali. Ucapannya akan selalu didengar dan dianut warga.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ada sembilan orang yang berhasil dikumpulkan malam itu. Soleh dan Beni menjadi penunjuk arah tempat yang menjadi sumber bau busuk itu. Dengan menggunakan senter mereka bergerak menerobos kelamnya malam.

“Sepertinya sumber bau memang ada di dalam rumah Lik Kardi,” ucap Zainul.

“Benar. Hidungku juga mencium bau menyengat dari arah rumah itu,” timpal Soleh.

“Kumpulkan orang-orang itu untuk memfokuskan pencarian ke dalam rumah. Bisakah sentermu kau arahkan ke dalam rumah, Ben? Tertutup korden nggak?” pinta Haji Ali.

Orang-orang itu bergerak mengitari rumah Kardi. Mencari celah untuk melihat keadaan di dalam rumah yang menjadi sumber bau busuk itu.

“Ya Allah! Astaghfirullahaladzim! Allahuakbar!” pekik seseorang memecah sunyinya malam.

“Ada apa?”

“Cepat ke sini!”

Suasana menjadi riuh oleh suara histeris. Kesembilan orang itu kini berkumpul di belakang jendela dapur.

“Lihat! Tubuhnya sudah dimakan belatung. Baunya naudzubillah mindzalik!” desis Sarmidi.
“Cepat dobrak pintunya!”

“Bodoh! Jangan gegabah! Bisa-bisa kita malah yang dicurigai polisi telah berbuat kejahatan! Laporkan polisi! Hubungi kerabat-kerabatnya!” pekik Gangsar.

Gerimis turun rintik-rintik. Sesekali guntur menggelegar di langit yang gulita. Sesekali pula kilat menyambar menampakkan sosok mayat yang sedang menggantung di bawah belandar dapur. Lehernya terikat oleh sarung yang membuat tubuhnya menggantung mengenaskan. Tubuhnya pun telah hancur dikoyak-koyak belatung.

Tak membutuhkan waktu lama untuk membuat rumah yang beberapa hari selalu gelap itu menjadi ramai. Sesisi kampung seolah tumpah menyaksikan mayat Kardi yang menggantung tragis di dapur rumahnya. Beberapa orang polisi datang. Kerabat serta istri dan anaknya yang beberapa hari pulang ke rumah orang tuanya juga datang. Berdesak-desakan orang melihat sebuah pemandangan yang sanggup membuat hati teriris-iris itu. Istri dan anak-anaknya menangis histeris. Semua orang bertanya-tanya alasan Kardi sampai nekat bunuh diri sedemikian mengenaskan. Banyak orang yang menerka-nerka alasannya.

“Tak sanggup menanggung beban utang,” bisik seseorang.

“Baru kalah judi. Frustrasi mungkin,” ujar yang lain.

“Itu balasan orang yang tak kenal agama. Bulan puasa harusnya puasa eh malah sedal-sedul rokokan di pinggir jalan.”

Semakin banyak orang yang membuka aib Kardi semasa hidup. Namun Haji Ali punya ceritanya sendiri. Dia berbisik-bisik pada Soleh. “Ini rahasia, Leh. Kuceritakan padamu seorang sebagai pengingat. Jangan mengikuti jejak kelamnya. Dan jangan umbar aibnya pada yang lain. Kamu harus janji akan merahasiakannya. Kalian sama-sama pernah menjadi santriku di waktu kecil dulu. Tak ingin aku melihat murid yang pernah kukenalkan pada agama hidupnya berakhir mengenaskan seperti itu.”

“Iya Pak Haji. Buat apa saya mengumbar aib orang yang sudah mati. Aib saya sendiri tak terhitung banyaknya,” tukas Soleh.

“Kau ingat ketika malam-malam aku datang ke pos kamling, aku bilang ada maling di rumahku?” bisik Haji Ali. Soleh mengangguk perlahan.

“Yang kumaksud maling itu adalah Si Kardi itu. Dia sangat malu ketika aku memergokinya mengobrak-abrik lemariku. Aku beri dia uang dan memintanya untuk tidak mengulangi dosa itu lagi. Dia menyanggupi dan memintaku tak akan menceritakan pada orang lain. Kututupi aibnya hingga dia sendiri yang membukanya di depan orang banyak begini. Malang sekali nasib muridku ngaji itu,” tutur Haji Ali pilu.

Air mata bening mengucur di keriput pipinya menyesalkan nasib buruk yang melanda murid ngajinya itu. Dan kemudian suara kentongan pos kamling terdengar bertalu-talu menggema ke sudut-sudut kampung. Menembus kelamnya kegelapan malam.

Mentaraman, 2 Juni 2020.

Tinggalkan Balasan