Sosiolog Max Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905), membahas bagaimana etika kerja dan keberhasilan material sering dianggap sebagai tanda keselamatan spiritual. Di era sekarang, fenomena ini bertransformasi menjadi capitalism of attention. Posting ibadah menjadi modal simbolis untuk membangun personal branding.
Fakta aktual menunjukkan bahwa influencer agama sering kali menggunakan ritual ibadah sebagai konten untuk meningkatkan keterlibatan (engagement). Bryan S. Turner dalam Religion and Modern Society (2011) mencatat bahwa dalam masyarakat konsumen, agama sering kali dipaketkan sebagai gaya hidup. Ibadah tidak lagi hanya soal hubungan dengan Tuhan, tapi bagian dari estetika profil media sosial. Flexing ibadah di sini bukan sekadar pamer kekayaan, melainkan pamer kesalehan sebagai mata uang baru dalam hierarki sosial digital.

Masyarakat Tontonan dan Eksistensi
Filsafat kontemporer memberikan pisau analisis yang tajam terhadap fenomena ini melalui konsep The Society of the Spectacle (Masyarakat Tontonan) dari Guy Debord (1967). Debord berargumen bahwa dalam masyarakat modern, segala sesuatu yang dulu dialami secara langsung kini telah bergeser menjadi representasi (gambar).
Ketika seseorang lebih sibuk mencari sudut foto terbaik saat berdoa daripada meresapi doa itu sendiri, terjadilah apa yang disebut sebagai “alienasi spiritual”. Ibadah tidak lagi “menjadi” (being), melainkan “tampak” (appearing).
Sejalan dengan itu, Jean Baudrillard dalam bukunya Simulacra and Simulation (1981) akan melihat postingan ibadah sebagai “simulakra”—sebuah salinan dari kenyataan yang kehilangan aslinya. Postingan doa di Instagram seringkali lebih “nyata” bagi audiens daripada doa yang sebenarnya diucapkan dalam hati. Kita hidup dalam dunia di mana citra tentang kesalehan dianggap lebih penting daripada kesalehan itu sendiri.
Navigasi Etika di Ruang Digital
