Potret Relasi Politik-Agama Orang Madura

Oleh karena itu, tidak berlebihan jika Kuntowijoyo memberikan istilah dengan Collective Sentiment, yaitu sentimen kolektif tentang sebuah rasa, ikatan batin, dan identitas keberagaman di dalam masyarakat (hlm16).  Ketiga ikatan tersebut mampu menjadi kekuatan maupun relasi kultural yang menjadi jembatan dalam mewujudkan penghormatan terhadap sosok kiai, khususnya kiai yang dianggap sebagai guru sababi (asal muasaal penyebab) Islam masuk ke Madura.

Tidak hanya itu, relasi sosial dengan kalangan kiai juga menjadi salah satu kekuatan sosial yang mengamankan kondusivitas masyarakat dengan berbagai macam dinamika sosial. Kiai lokal dalam perjalanannya mampu membawa nilai-nilai agama sebagai habitus mayarakat tentang etika berelasi kepada kiai, ulama, terlebih kepada guru sababi sebagai sosok yang sangat dihormati masyarakat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam perjalanannya, eksistensi kiai sebagai ulama yang dihormati juga membentuk tradisi penghormatan masyarakat kepada bapak-ibu. Sosok kiai ini disebut dengan kiai dheghing, yaitu kiai yang mengajarkan pertama kali warga masyarakat belajar huruf, belajar membaca Al-Quran. Kiai dheghing biasanya sangat dekat secara fisik dan batin dalam rajutan ikatan kultural yang berlangsung lama dengan para keluarga di dalam masyarakat (hlm, 33).

Di samping aspek keagamaan, aspek sosial budaya meliputi dunia para jago/bandit/blater di Madura juga tidak kalah penting. Ong Hok Ham dalam karyanya Dari Soal Priyayi sampai Nyi Blorong menyebutkan bahwa istilah blater merupakan kaki tangan pemerintahan kolonial Belanda sebagai bagian dari identitas dan cermin dinamika yang lahir di zaman kerajaan dan terus mengalami perkembangan peran dari era kolonial. Puncaknya, para blater tetap digunakan sebagai back up kebijakan kolonial dan juga ada yang tidak dipakai dan memilih untuk mengambil peran jagoan di masyarakat (hlm 64).

Tekanan masyarakat berlapis-lapis dari pemerintah kolonial, munculnya gangguan keamanan, kebijakan kolonial yang banyak merugikan petani, menjadi beberapa alasan kenapa para bandit/blater/jagoan untuk ambil sikap membela dan mempertahankan keamanan, kenyamanan, dan kesejahteran masyarakat yang mayoritas sebagai petani. Oleh sebab itu, mereka hadir esensinya sebagai respons terhadap ketimpangan sosial yang sengaja dikontruksi oleh rezim kolonial kepada masyarakat sekitar.

Tinggalkan Balasan