Cakupan bahasa sendiri juga tidak sesempit yang kita bayangkan. Sebagaimana sudah dijabarkan di atas bahwa bahasa bisa berbentuk ungakapan dengan lisan, maupun tulisan, bahkan isyarat. Namun, pada inti pokoknya bahasa hanyalah alat untuk melancarkan komunikasi tiap individu. Tanpa sistem bahasa, individu tidak mungkin dapat berkomunikasi satu sama lain dan tidak dapat menjalin relasi. Bukankah manusia adalah makhluk yang butuh relasi, atau zoon politicon dalam istilah Aristoteles?
Lalu di mana persoalan superioritas dan inferioritas bahasa itu? Saya menyebut bahwa hal ini masih erat kaitannya dengan simtom dikotomis antara ilmu agama dan ilmu nonagama. Kita sepakat meski tidak secara aklamatif, menganggap bahwa Islam erat kaitannya dengan bahasa Arab karena beberapa sebab.

Pertama, Islam lahir dan tumbuh menjadi agama di Arab. Kemudian, kitab suci umat Islam (Al-Qur’an) juga berbahasa Arab. Sehingga kita dapat mengambil kesimpulan bahwa antara Islam dan bahasa Arab punya hubungan mesra. Dan, saat yang bersamaan justru malah digunakan oleh sebagian orang untuk menegasikan bahasa nonarab, secara spesifik Inggris.
Implikasinya, bahasa Arab dianggap sebagai bahasa yang superiorior ditambah lagi legitimasi dari sebuah hadis (?) yang kurang lebih berbunyi: Aku mencintai Arab karena tiga hal; karena aku orang Arab, Al-Qur’an berbahasa Arab, dan bahasa Arab adalah bahasa ahli surga.
