Pudarnya Pesona Lely

Suatu hari ketika kami sedang berdua nafsu makan bakso Lely kambuh lagi.
“Kita makan bakso dulu yuk, tuh ada penjual bakso,” lagi-lagi Lely mengajakku makan bakso. Kami sedang berada di mobilnya sepulang kuliah di suatu siang yang terik. Dia bermaksud mengantarku pulang. Dia hanya kuizinkan mampir di gang rumahku, jadi tidak tahu rumahku seperti apa. Di pinggir jalan dekat dengan gang rumahku memang ada seorang penjual bakso pakai gerobak. Dia sudah tidak muda lagi. Baju yang dikenakannya pun sangat sederhana.
“Sayang, siang yang sebegini panas mana enak makan bakso? Sudahlah, kita makan di restauran di depan sana aja ya?” kataku pelan. Akhirnya dia menurut perkataanku walaupun wajahnya cemberut. Dia kembali menancap gas untuk kemudian melanjutkan perjalanan. Setelah sampai di sebuah kedai makan, kami berhenti. Rasa lapar yang meremas perut dan membuat cacing di perut kami melolong-lolong itu terpuaskan sudah. Akulah yang membayari uang makan itu. Padahal harganya membuat dompetku jebol tiada menyisakan isi. Namun senyumnya yang kelihatan bangga saat menatapku meruntuhkan kesedihanku karena kehabisan uang. Senyumnya itu adalah sumber energi pembangkit bahagiaku. Kerling matanya membuatku lupa dari mana uang itu aku dapat. Namun, setibanya di rumah, ketika segala kesederhanaan hidup tersaji di sana, aku segera ingat. Uang itu adalah hasil jerih payahku merayu Pakde Jun untuk menuangkan sebagian kasih sayangnya memberi aku pinjaman. Dan, ketika aku sadari itu, rasa sesal segera menggerogoti ketenanganku. Gelisah segera terhampar di depan mataku memikirkan aku akan membayar buku dengan uang yang mana esok hari jika ditagih bendahara kelas?

* * *
Pagi menjelang siang itu sedang cerah. Di atas sana, langit sedang mengumbar kebiruannya. Beberapa lembar awan yang mengapung di langit menambah pagi menjelang siang itu semakin berwajah ceria. Aku sedang duduk bersantai sambil membaca buku diktat kuliah bersama Zeni, teman nongkrongku. Kami larut dalam diam karena sedang serius membaca. Lalu-lalang mahasiswa yang lewat di dekat kami tak kami hiraukan. Kami sedang khusyuk.
Namun, tiba-tiba kekhusyukan itu tertukar dengan kegaduhan yang dibawa oleh Lely. Gadis cantik itu terlihat membawa amarah. Entah oleh sebab apa.
“Kenapa Lel?” tanyaku sambil menutup buku.
“Kamu memang benar. Aku yang keras kepala.”
“Kamu ngomong apa? Apa maksudmu?”
“Aku menyesal menjadi penggila bakso. Andaikan aku sepertimu yang tak berselera dengan makanan tak sehat itu pasti aku tak akan dibuat sebegini sial.”
“Apa maksudmu. Kamu kenapa?” tanyaku semakin bingung dengan kemarahannya.
“Beberapa hari yang lalu aku membeli bakso kepada penjual yang kita pernah bertemu itu. Aku beli seporsi tanpa sambal, eh dasar budek, dia ternyata tetap memberi sambal. Namun, aku memakluminya dan tetap memakannya walau kepedesan. Dan hari ini lebih sial lagi. Ketika aku pesan semangkuk bakso tanpa sambal dia malah memberi sambal yang entah berapa banyaknya sampai-sampai bakso itu hanya terasa cabai. Aku marah banget. Mangkok itu aku jatuhkan. Dia takut. Tangannya yang tua terlihat buyutan. Namun kemarahanku belum terpuaskan, karena kuah bakso itu ada yang menciprati mataku. Kutendanglah rombong bakso itu. Benar-benar anjing! Rombong yang berada di jalan miring itu menggelinding ke bawah tanjakan hingga akhirnya menabrak pohon. Tumpah ruahlah segala isinya. Lelaki bangsat itu tak terima. Dia minta ganti rugi padaku. Tentu saja aku menolak. Siapa suruh orang budek jual bakso. Aku hendak masuk mobil ketika beberapa warga yang melihat kejadian itu menghentikanku. Mereka menuntut ganti rugi jika tidak ingin dipolisikan. Akhirnya aku memberinya uang. Hari ini benar-benar bangsat keparat,” gadis itu meledak-ledak dikuasai amarah.
Dan ucapan gadis itu membuat darahku serasa mendidih. Bukannya aku membelanya, namun aku malah mengeluarkan sumpah serapah. Kulayangkan tanganku menampar pipinya. Dia kelihatan bingung dengan tindakanku barusan.
“Kamu, kenapa menamparku?” suaranya bergetar.
“Kita putus!” aku memekik keras.
“Gila! Kenapa? Apa maksudmu?”
Gadis itu kebingungan. Wajahnya memerah dikuasai amarah dan rasa bingung.
“Karena penjual bakso itu adalah Bapakku.”
Aku lantas tertunduk lesu. Lely telah berlalu meninggalkanku, pergi membawa rasa kecewanya. Kemudian Zeni datang mendekatiku. “Sabar Rul. Ini hanyalah cobaan belaka.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tinggalkan Balasan