Kamis malam kenari, Semaan Puisi membaca jejak dan karya penyair tersohor Prancis, Charles Baudlaire. Sebagaimana tersemat dalam catatan Angin Kamajaya, penulis buku Jejak dan Karya 13 Penyair Dunia, puisi-puisi Baudelaire sangat kuat, liar, dan berpengaruh kepada penyair-penyair generasinya, di antaranya, Paul Velairene, Arthur Rimbaud, dan Stephane Mallarme.
Penyair Naning Shceid, penyair yang juga menulis dan menerjemahkan puisi-puisi Charles Baudlaire, yang hadir turut nembaca salah satu puisi dari karya sang maestro. Penyair Indonesia yang kini tinggal di Belgia itu mengakui, “Tidak mudah menerjemahkan puisi-puisi Charles Baudelaire, ia sangat ketat dan matematis, terutama dalam menjaga rima, irana, dan metrum.”

Baudelaire bersekolah di kota Lyon, Prancis. Saat usianya masih 14 tahun, teman-temannya sering menyebutnya sebagai orang yang lembut dan terhormat yang mencintai sastra melebihi usianya sendiri. Hidup Baidelaire tidak tertib dan cenderung berantakan.
Puisi-puisi Baudelaire sebagian besar menggambarkan pengalamannya hidupnya denga permainan rima yang baik, beberapa puisi terasa bernuansa erotik karena pengaruh sastra era romantik. Ia pernah tersangkut politik sastra atas buku puisinya yang berjudul Les Fleurs du Mal.
