Puisi-puisi dari Kelas Menulis Kreatif

pagi ini aku terbangun
di sela-sela lemari baju,
di antara lipatan kain
yang menyimpan bau tubuh hari-hari lama.

dari celah kayu yang sunyi
aku mendengar dunia berdesir:
kata-kata dari berita
jatuh seperti biji-biji hujan
di atap seng ingatan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

mereka berkata:
hari-hari sedang merayakan manusia—
manusia yang lahir dari banyak perasaan,
seperti laut yang mengandung
garam, luka, dan harapan sekaligus.

tetapi aku teringat engkau, Bapak.
engkau yang berjalan sebelum matahari,
ketika jam tiga pagi
masih menggigil di dinding rumah,
ketika jalan-jalan belum mengenal langkah
selain langkah orang-orang yang bekerja.

aku melihatmu
menenteng sayur dari pasar yang masih basah,
daun-daun kangkung menggantung
seperti bulan kecil yang belum sempat tumbuh.

namun bulan ini berbeda.

engkau berkata pelan:
hari suci itu hanya sebuah toples oreo
di atas meja kayu kita—
toples yang biasanya menyimpan manis,
kini berisi kerupuk yang ringan seperti angin.

dan aku melihat
keringat di dahimu
bukan sekadar air.

ia adalah abu dari matahari,
debu dari kerja yang lama menyala,
yang engkau redam
di telapak tanganmu sendiri.

tung.
tung.

suara sendok di gelas
atau mungkin suara hatimu
yang memukul pagi
agar rumah ini tetap hidup.

Tinggalkan Balasan