Relasi Afghanistan, Taliban, dan Muslim Indonesia

Apakah invansi militer oleh Amerika Serikat terhadap Taliban telah mengakhiri gejolak sepenuhnya? Tidak! Meskipun Taliban digempur habis-habisan dan digulingkan, nyatanya kekuatan dan semangat ekstremis Taliban masih menyala-nyala. Mengutip jurnal Timline: The Fall of Kabul, pada kisaran awal tahun 2006-2009 pemberontakan dan serangan Taliban membesar kembali. Pemerintahan pun kembali chaos, dan beberapa provinsi di selatan Afghanistan jatuh ke tangan Taliban. Hal ini menjadi momentum yang berkesinambungan; kekerasan, teror, pemberontakaan terus dilakukan oleh Taliban.

Taliban sendiri mengakui dan bertanggung jawab atas serangkaian serangan dan teror yang dilakukan. Melansir dari laman berita CNN bulan Febuari 2020, Sirajuddin Haqani, Wakil Pemimpin Taliban, menjelaskan serangan yang dilancarkan tersebut bukanlah atas keinginan kelompoknya, melainkan dalam hal pembelaan diri atas serangkaian serangan militer Amerika Serikat. Hal ini wajar, karena militer Afghanistan sendiri juga ketar-ketir menghadapi Taliban, sehingga serangan dan pembersihan paling intens dilakukan oleh militer Amerika Serikat dengan daya yang begitu besar dan masif. Tetapi, bagaimana pun dalihnya, rakyatlah yang paling banyak menjadi korban atas tindakan saling serang kedua belah pihak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam kurun satu dekade tersebut, antara pihak pemerintah Afghanistan, Taliban, dan militer yang terjun di Afghanistan sudah beberapa kali melakukan pertemuan, yang tak lain tujuannya untuk menemukan titik temu: perdamaian. Bulan Juli 2019, pihak Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan berkunjung ke Indonesia, untuk berembuk yang dimediasi oleh pemerintah Indonesia. Dari pemerintah RI diwakili Jusuf Kala, Kementrian Luar Negri RI, Badan Inteljen RI, DPR-MPR, dan PBNU.

Puncaknya, pada 29 Febuari 2020, disepakatilah perjanjian damai antara Taliban-Amerika Serikat di Qatar. Dan dihasilkanlah kesepakatan: kedua belah pihak mengurangi serangan, ditariknya militer Amerika Serikat selambatnya 14 bulan dari kesepakatan. Dengan catatan, Taliban tidak boleh/harus mengurangi serangan terhadap Amerika Serikat dan sekutunya (beberapa negara-negara superior Eropa ).

Pada awal Juli 2021, sedikitnya 90 persen kekuatan militer Amerika Serikat ditarik dari Afghanistan untuk menindaklanjuti kesepakatan damai di Qatar. Dan apakah hal ini mengantarkan pada perdamaian dan kestabilan di Afghanistan? Jawabanya, tidak. Taliban semakin berulah dan mengganas. Rangkaian serangan semakin intens. Melansir dari CNN, serangan Taliban tercatat menjadi salah satu yang paling masif. Setidaknya 400 distrik dikuasai Taliban dalam rentang dua minggu. Pasukan militer Afghanistan sendiri sampai melarikan diri ke Tajikhistan, karena negerinya dikepung serangan Taliban.

Sudut Pandang Indonesia

Bagaimana melihat situasi Afghanistan dari sudut pandang Indonesia? Semangat jihad dan perang (terorisme) berdasar keyakinan agama (Islam) sangatlah luar biasa. Ketauhidan yang tinggi dengan pemahaman yang keliru berimplikasi pada tindakan ekstremis yang terus beregenerasi. Buktinya, Taliban diserbu habis-habisan oleh Amerika Serikat selama dua dekade tetapi semangat juangnya masih berkobar, bahkan hari ini menindih pemerintah Afghanistan. Situasinya mirip-mirip dengan di Indonesia. Meskipun HTI, FPI, dan ormas radikal lainya sudah dibubarkan, tetapi simpati dan pemahamannya masih mengakar. Maka hal ini tidak bisa dianggap selesai begitu saja. Deradikalisasi harus tetap digencarkan. Dan jika ada yang berdalih terlalu sibuk mengurusi “radikal-radikul”, lantas apa pembandingnya: Apakah kita mau seperti Afghanistan dan negara Timur Tengah lainya? Mudahnya, jangan sampai kita meremehkan kekuatan atau potensi radikalisme sekecil apa pun, karena itu nyata dan bisa membesar dalam sekejap.

Tinggalkan Balasan