Revitalisasi Perpustakaan untuk Masyarakat Produktif

Seperti disampaikan oleh The International Federation of Library Association and Institution (IFLA), bahwa perpustakaan merupakan elemen sentral suatu bangsa dalam upaya peningkatan literasi masyarakatnya. Sebab, perpustakaan memiliki modal terhadap akses informasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta budaya universal. Jadi, apa yang disampaikan oleh IFLA merupakan manfaat utama akan keberadaan perpustakaan. Oleh karena itu eksistensi perpustakaan harus menjadi perhatian yang serius, sekaligus bagaimana mengangkat harkat dan martabat perpustakaan itu sendiri.

Akses informasi adalah kemudahan untuk mendapatkan pengetahuan untuk kepentingan hidup dan kehidupan. Di perpustakaan tersedia berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersifat terapan maupun yang bersifat teoretis, baik akademik maupun nonakademik. Ketika kita mampu memanfaatkan pengetahuan dari perpustakaan, maka akan mudah mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Itu artinya, perpustakaan memiliki akses informasi yang sangat signifikan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Teknologi informasi dan komunikasi juga dapat diakses dari perpustakaan. Karena di dalam perpustakaan modern, berbagai media dapat ditemukan, bukan saja dalam bentuk paket buku, namun juga dalam bentuk media lainnya, seperti kepingan video, kaset audio, maupun media penyimpanan lainnya. Gambar dan media tiga dimensi juga dapat dijadikan salah satu referensi di dalam perpustakaan.

Selain itu, dari perpustakaan kita juga dapat mempelajari budaya suatu bangsa atau negara. Kebiasaan-kebiasaan baik yang terjadi di suatu tempat tertentu dapat kita pelajari dan jika memungkinkan dan sesuai dengan budaya setempat dapat diterapkan di tempat kita sendiri. Setidaknya, dengan perpustakaan pengetahuan terhadap beragam budaya yang ada dapat kita ketahui dan mencoba untuk melestarikannya dengan kapabilitas dan kapasitas masing-masing.

Revitalisasi Perpustakaan

Secara makna bahasa, revitalisasi adalah membangun kembali kebiasaan-kebiasaan baik agar menjadi vital dan berdaya guna. Revitalisasi perpustakaan adalah mengembalikan fungsi perpustakaan agar menjadi lebih bermanfaat dan mendapat perhatian yang baik dari seluruh lapisan masyarakat.

Perpustakaan sebagai pusat pengetahuan seharusnya menjadi perhatian yang lebih dari pemerintah. Tetapi untuk membangun kebiasaan memanfaatkan perpustakaan bukan semata kewajiban pemerintah. Namun, seluruh lapisan masyarakat, lembaga-lembaga pendidikan, bahkan secara personal memiliki kewajiban untuk mengembalikan minat baca (baca: perpustakaan). Berbagai macam teknis dapat dilakukan demi membangun budaya kembali ke perpustakaan.

Membangun ruang terbuka baca adalah salah satu cara untuk membudayakan minat baca. Ruang baca ini dapat dibangun di mana saja, baik dalam lingkup pendidikan (sekolah/madrasah) maupun di sekitar lingkungan tempat tinggal. Realitasnya, untuk membangun rumah baca atau ruang baca tidak semudah yang kita bayangkan. Karena memerlukan pikiran, tenaga, kesabaran, dan keikhlasan.

Perpustakaan keliling adalah salah satu aspek yang dapat meningkatkan minat baca. Dengan demikian, perpustakaan semakin dikenal dan menjadi keseharian dalam suatu pemahaman eksistensi perpustakaan. Perpustakaan keliling dapat dilakukan oleh siapa saja, baik lembaga maupun perorangan. Mengajak dengan cara langsung berhadapan dengan bahan bacaan, akan lebih mudah daripada hanya sekadar ajakan yang bersifat teks maupun visual serta audio.

Buku dengan judul Kisah Inspiratif: Aku dan Perpustakaan yang merupakan hasil dari lomba yang diadakan oleh Perpusnas adalah bagian dari revitalisasi perpustakaan. Di dalam pengantar buku ini disebutkan bahwa kisah-kisah inspiratif yang ditulis dalam buku ini sebagai jawaban atas pertanyaan bahwa perpustakaan akan hilang dari kehidupan. Jadi, dengan mengadakan lomba kepenulisan, baik fiksi maupun nonfiksi, eksistensi perpustakaan akan terus ada dan semakin berkembang. Tentu masih banyak kegiatan lain yang dapat dilakukan untuk revitalisasi perpustakaan.

Perpustakaan dan Masyarakat Produktif

Nurhayati dkk, dalam makalahnya menyebutkan bahwa masyarakat dalam suatu negara perlu produktif dan inovatif agar tidak terus bergantung dengan program pemerintah. Permasalahan yang sering terjadi di desa-desa atau bahkan ibu kota adalah tidak banyak masyarakat yang menyadari pentingnya melakukan hal yang menghasilkan dan memulai berinovasi untuk menciptakan produk baru yang mendatangkan keuntungan.

Tinggalkan Balasan