SENYAP, ABDI, DAN TUHAN
Aku terbangun dari semilir angin
yang mengguyur tubuhku
Kuempaskan kemalasanku
yang terbaring rapi di sanubari
Melangkah kuat walau sebenarnya lunglai

Entah apa
Hati ini tiba-tiba memaksaku tuk beranjak menembus malam
Malam di mana Tuhan menanti rintihan, rayuan, dan keluh kesah dari seorang abdi
Ah, betapa lancangnya
Memenantikan Raja
Yang nyata di setiap untaian janji dan ritmis Firman-Nya
Sedangkan abdi, rekat dalam egonya
Mengapa tidak di keramaian saja?
Ketika mentari menatap tajam
Punggung para petani
Aku hanya menerka-nerka dalam angan
Sungguh nyentrik alur-Mu
Sehingga abdi lupa
Bahwa dalam senyap
Terdapat lakon yang terpentas
Tanpa pamrih
