Revolusi Puasa: dari Ritual Menuju Sosial

Oleh karena itu, puasa mengajarkan arti solidaritas sebagai sesama manusia atau secara lebih sempit sebagai sesama muslim. Nilai solidaritas ini adalah social capital awal dari kokohnya suatu masyarakat. Sehingga tumbuh sebuah stabilitas dan kesinambungan antar masyarakat.

Islam adalah agama keadilan, kemaslahatan, dan condong pada gerakan pembebasan kaum mustad’afin dan madhlumin, yakni orang-orang fakir, miskin, orang-orang yang terpinggirkan dan tergusur oleh ulah sistem kebijakan yang tidak berkeadilan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sehingga puasa tidak kemudian dipahami kembali sebagai teologi transedental belaka. Puasa harus diimplementasikan sebagai spirit perubahan diri dan modal perubahan sosial yang pada akhirnya mempunyai muatan maqashid syariah.

Islam bukan hanya tentang ajaran langit yang jauh dari jangkauan pemeluknya. Islam sesungguhnya harus mempu mentransformasikan realitas ke dalam sebuah teks yang bersumber dari sosio kultural masyarakat.

Pesan puasa yang lebih mengarah pada gerakan progresif dan tranformatif ini juga mendapat legitimasi dari Nabi. Beliau bersabda;

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِمْ، مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

“Barang siapa memberi makan orang berpuasa maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala sedikit pun dari orang yang berpuasa itu.”

Tinggalkan Balasan