“Apa ini, Bu?”
“Begini, Pak. Tadi anak saya pulang sambil tertawa. Saya tanya ada apa? Dia bilang baru saja mendengarkan Bapak mendongeng di pos ronda, tapi dia dan teman-temannya tidak mau membayar Bapak. Oh, itu sungguh memalukan. Maafkan anak saya dan teman-temannya, Pak. Amplop itu untuk Bapak. Terimalah, Pak. Semoga Bapak beruntung di tempat lain,” kata sang ibu, lalu berlalu.

Pak Wicara membuka amplop itu. Seratus ribu rupiah! Sepasang mata Pak Wicara berkaca-kaca, terharu mendapatkan rezeki hari itu.
“Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah,” ucap Pak Wicara menatap langit, lalu memasukkan amplop itu ke tas punggung hitam lusuhnya.
Hari semakin sore, sebentar lagi matahari terbenam. Pak Wicara memutuskan untuk pulang. Hari itu ia telah berkunjung ke tiga kampung.
Besok ia akan kembali berkeliling dari kampung ke kampung, melanjutkan hidupnya sebagai pendongeng keliling. Ia masih percaya bahwa tiap orang punya jatah rezekinya sendiri. Rezeki yang sudah tertakar tak akan tertukar.
