RONA LEBARAN
Bau harum mengepul dalam dapur
Opor ayam dan sesajian terus berliur
Bersuara meremas dalam panci
Hingga asap terus melukis saji

Kini bumbu dapur bermacam warna
Seperti pelangi tertata dalam meja
Merah muda, kuning merona
Dengan berbagai macam rasa
Sungguh lebaran sudah dimulai
Berbeda dengan hari lainnya
Sebab mengeja cerita gemulai
Tanpa menghilangkan rona lebaran
Morleke, 2024.
MUDIK KE HATIMU
Barangkali jalanan kota menemui kebuntuan
Seperti buntunya jalan ke relung hatimu terdalam
Kadang berisik kadang hening
Menempa diri di hari yang bening
Barangkali macetnya tak lagi terhirau
Ketika mendengar bunyi takbir berkumandang
Padat jalanan memberi pesan gurau
Penuh cahaya dan bunyi sejauh mata memandang
Ya bunyi dan cahaya bukan hanya menghiasi jalan
Bukan sekadar bercerita cerah redup kehidupan
Sebab di situlah terbuka tabir karakter seseorang
Hingga menembus batas-batas tak terhalang.
Al Mardliyyah, 2024.
MENUJU KEMENANGAN
Sudah satu bulan kita menyelami lautan
Berjumpa dengan beragam macam cobaan
Lapar, ikhlas, hingga sabar menahan nafsu hasutan
Dengan beragam rangkaian cerita kebaikan
Kini ramadan sudah mau pamitan
Bulan penuh berkah dan ampunan
Bulan yang menghiasi hati dengan iman
Bulan dimana setan-setan dibelenggu dalam tahanan
Waktu terus berputar, hari pun ikut berlalu
Aroma ramadan telah mencapai akhir perjumpaan
Air mata mengalir kadang terlintas pilu
Meninggalkan bulan beribu ampunan menuju kemenangan yang didambakan.
TUMPAH KENANGAN RAMADAN
Sudah saatnya kenangan ditumpahkan
Setelah lama hinggap bersemayam
Hampir usang menunggu kelamaan
Kadang lupa jalan menuju tempat kelahiran
Gema takbir berkumandang kembali mulai