Sadikin dan Ibadahnya

“Lama saya ngaji di sini, Kiai. Mempelajari berbagai disiplin ilmu agama dengan susah payah serta menjalani laku prihatin yang melelahkan pula. Saya yakin, inna ma’al usri yusro. Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan, bukankah begitu janji Tuhan, Kiai. Namun, ketika pulang kampong, sepertinya apa yang saya cari dengan susah payah itu berhamburan seperti debu,” keluh Sadikin.

“Maksudmu apa, Kang Sadikin?” tanya kiai sepuh itu lembut.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Untaian doa fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah selalu saya munajatkan setiap waktu, tapi sepertinya doa itu tak pernah dikabulkan. Hidup saya susah, dalam mencukupi kebutuhan rumah tangga selalu ada cobaan. Pun demikian, ketika mengajak masyarakat untuk mendekat pada akhirat, ucapan saya tak dihiraukan. Bagaimana akan dihiraukan, doa orang yang mengajak ini saja tidak mustajab. Perilaku taat agama yang saya contohkan ternyata tak menjanjikan kemudahan-kemudahan hidup. Rasanya ada hijab yang menghalangi saya mendekat pada-Nya. Ajakan yang saya lakukan pun akhirnya tak membuat mereka tertarik,” Sadikin meluapkan ganjalan hatinya.

Kiai sepuh itu menghela napas berat, ia lantas terdiam tak segera menyahut pertanyaan santrinya itu. Sadikin pun merasa canggung dan bersalah, mungkin apa yang diucapkannya ini tidak pantas ataupun kliru.

“Bagaimana bisa santriku yang lama menuntut ilmu ini punya pikiran sempit seperti ini?” gumam sang kiai. “Agama yang suci telah berubah menjadi nafsu dalam pikiran dan hatimu yang kotor. Seolah kau berhak menuntut Tuhan dengan usaha-usahamu itu.”

Sadikin terperanjat.

“Yang kau maksud ibadah adalah pengaruh dalam masyarakat. Padahal dianggap manusia apa tidak, ibadahmu sama sekali bukan masalah, asal niatmu lillah, hanya mengaharap rida Allah. Tapi jikalau harapanmu keridaan manusia; ridhonnaasi ghooyatun laa tudrok, keridaan manusia adalah kemustahilan yang sulit diraih.”

Kiai itu menghela napas.

“Pulanglah, tata niatmu, dan biarkan Tuhan yang menata hidupmu. Tak perlu kau campuri urusan-Nya,” tegas sang kiai.

Tinggalkan Balasan