Safari: Etika dan Fikih Perjalanan

Selain memilih moda transportasi, soal merancang rute, cek primer kendaraan, cek fungsi sekunder kendaraan, menyiapkan fisik sebagai pengemudi/penumpang, dan menyiapkan mental di perjalanan juga harus dilakukan. Dalam pengecekan kendaraan, di sinilah M Faizi menjelaskan dengan detail bagian-bagian dari kendaraan yang perlu diperhatikan. Seperti lampu utama (hal. 16), lampu sein (hal. 17), lampu hazard dan tekanan angin/kondisi ban (hal. 18), serta laras imbang dan klakson (hal. 19). Semua musti diperhatikan agar di perjalanan kita tidak mendapatkan hal-hal yang tidak diinginkan.

Buku ini juga menjelaskan bagaimana saat kita menghadapi berbagai kondisi (darurat) di tengah perjalanan. Seperti saat ingin menyalib kendaraan di depannya, berjalan di jalan bebas hambatan (Tol), mengemudi di sore hari, situasi darurat, rem blong, pecah ban, dan mesin mati (hal. 26-29). Semua dijelaskan dengan rinci agar kejadian yang lebih fatal tidak terjadi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di Bab dua, penulis menjelaskan terkait dengan “Shalat dan Hal Penting Lain di Perjalanan.” Di bagian ini, M Faizi menunjukkan kepiawaiannya dalam memahami fikih di perjalanan (safar). Salat merupakan bagian tidak terpisahkan bagi umat Islam. “Di dalam Islam, salat merupakan kata kunci keberagamaan. Salat adalah rukum Islam yang pertama setelah syahadat, juga yang paling ketat aturannya,” (hal. 31). Oleh karena salat itu sangat penting dalam kehidupan orang Islam, maka “Sebab itulah, pembahasan salat harus istimewa,” demikian M Faizi menjelaskan.

Tidak mungkin saya menjelaskan secara terperinci terkait dengan salat diperjalanan. Karena resensi hanya sebatas memberikan gambaran umum terkait dengan isi sebuah buku. Untuk mencermati lebih jauh kita harus membaca buku ini sehingga tidak terjadi pemahaman parsial yang akan melahirkan keraguan dan miskonsepsi.

Di dalam bab ini dijelaskan bagaimana memilih masjid yang benar, mengatur waktu salat, salat dan rukhsah safar, pendapat ulama terkait batasan rukhsah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Memiliki buku kecil yang hanya seharga sebungkus rokok ini, Rp 25.000,- menjadi suatu keniscayaan.

Ada juga pembahasan terkait dengan “Adab di Perjalanan.” Di pembahasan ini penulis menjelaskan bagaiman seharusnya seorang pengguna jalan raya bersikap dan berperilaku. Karena dengan sikap dan perilaku yang baik dan benar, maka tidak akan terjadi hal-hal yang memudaratkan.

Adab pengemudi, ibadah di perjalanan, naik mobil pribadi, adab berlalu lintas, dan lain sebagainya adalah beberapa hal yang dijelaskan penulis. Tentu saja jika kita mengikuti kaidah dan aturan yang telah dijelaskan dalam buku ini, kita akan menjadi pengelana (pelaku safar) yang bijak dan terlepas dari sikap yang tidak baik. Insya Allah, selamat di dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan