Langgar ini kubangun untuk menampung doa-doa yang tak sempat diucap dalam forum resmi. Untuk menampung air mata dari mereka yang tak punya nama.
Sajadah ini sengaja kupasang menghadap timur. Agar setiap sujud kita tak hanya menyentuh tanah, tapi juga menghadap cahaya. Karena dalam gelap yang panjang, arah tak selalu diukur oleh kompas.

Catatan itu mengguncangku. Tapi lebih dari itu—membuatku gelisah.
Aku kembali ke pesantren dengan kepala penuh tanya. Di ruang kitab, aku mendekati Kiai Ghozali. Lelaki tua yang dikenal tegas tapi sorot matanya teduh. Aku bertanya dengan suara pelan, “Apa jenengan tahu soal Langgar Timur?”
Kiai menatapku lama. Ada sunyi dalam sorot matanya. “Kau baru baca ya?”
Aku mengangguk.
“Basyir itu sahabatku,” lanjutnya pelan. “Terlalu jujur untuk dunia yang penuh tipu.”
***
Sejak malam itu, Kiai Ghozali tak lagi muncul di ruang kitab. Kabar wafatnya datang diam-diam, dibacakan dalam yasinan malam Jumat, nyaris tanpa pelayat dari kalangan santri muda. Entah karena lupa, entah karena sengaja. Dan aku tahu bahwa satu-satunya yang mengerti makna Langgar Timur telah pergi.
Aku memberanikan diri membawa catatan itu ke forum santri senior. Aku kira mereka akan tersentuh. Tapi ternyata tidak.
“Ini melanggar syariat,” kata Haris, santri paling senior dan kandidat ketua umum organisasi pesantren.
