Di langit keenam,
Kau berjumpa Musa bin Imran
Diucapkanlah salam padamu.
Sebelum menuju langit tujuh, Ia tiba-tiba menangis
Lantas kau bertanya “Ada apa?”
“Aku menangis, karena ada orang yang lebih muda diutus setelahku,
tapi umatnya lebih banyak yang masuk surga daripada umatku,” Katanya.

Di langit ketujuh
Kau berjumpa Ibrahim,
Diucapkanlah salam padamu,
lantas mengakuimu sebagai pemimpin para Nabi
Hingga tiba di Sidratul Muntaha;
suatu tempat nan indah: batas antara langit dengan surga
Di tempat ini pula kau lihat Jibril
dalam wujud aslinya:
dengan memiliki enam sayap,
Dari bulu-bulunya, ia mengibaskan butiran-butiran yaqut dan permata.
KEKASIH
Keheningan pecah
Kerisauan musnah
Kesedihan remuk-redam
Kegelisahan hancur-lebur
Dada yang sempit itu telah diluaskan
Pikiran yang gelap itu telah tercerahkan
Oh kekasih,
Kekasihmu telah benar-benar memberi hadiah
Usai ‘Aamul Huzni’ yang cukup membuatmu resah
Satu per satu kekasihmu di dunia telah pulang
Namun engkau tak sendirian
Sang Maha Pengasih adalah kekasih sejati
Dialah yang memberi kasih sayang sepanjang zaman
Yang menghiburmu di kala sendu
Yang mengirimmu ke langit tujuh
Yang membuat peristiwa itu
menjadi sejarah besar sepanjang waktu
Gresik, 27 Rajab 1444 H.
