Sanad, Ilmu, Sastra: Dialektika Tradisi Pesantren

Kontekstualisasi Sanad

Kita perlu menurunkan seluruh pembicaraan di atas, yang tampak melayang-melayang di udara, ke bumi tempat kita berpijak hari ini. Kalau sanad adalah konsep yang berkembang sekaligus panggilan etis dunia santri, bagaimana misalnya santri-sosiolog atau santri-sastrawan mesti bersanad? Pertanyaan yang sangat membumi ini menguji batas konsep sanad. Perluasan sanad ke ranah keilmuan, seni, dan profesi modern yang “sekuler” merupakan tantangan epistemologis sekaligus peluang kreatif. Tantangan baru kontekstualisasi sanad.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sanad, bagi santri-sosiolog dan santri-sastrawan —keduanya di sini tentu saja hanya pars pro toto— bukanlah rantai yang terputus di ujung zaman, melainkan benang emas yang harus mereka pintal sendiri dengan kesadaran penuh. Mereka berdiri di persimpangan dua sungai besar: sungai tradisi yang mengalirkan barakah dan adab dari langit kenabian, dan sungai modernitas yang deras membawa metodologi kritis, kebebasan berekspresi, dan relativitas budaya. Bersanad bagi mereka adalah tindakan keberanian untuk merajut kedua arus itu menjadi tenunan makna yang baru. Ijazah mereka bukan lagi sertifikasi lisan semata, tetapi karya tulis yang menghidupkan kembali roh hikmah Islam dalam bahasa teori sosial atau metafora sastra kontemporer.

Guru-guru mereka pun berwajah ganda. Bagi santri-sosiolog: sang kiai yang membisikkan tafsir di serambi pesantren, dan sang profesor yang mengajarkan hermeneutika sosial di ruang kuliah. Bagi santri-sastrawan: kiai yang melantunkan syiir al-Bushiri atau mengisahkan Nabi Yusuf, dan sastrawan pendahulu yang menyuntikkan seni bahasa. Dalam setiap kalimat yang mereka lahirkan, terdengar gemanya: sebuah komitmen bahwa ilmu —betapapun modern— harus tetap tunduk pada etika; bahwa imajinasi —betapapun fiksi— harus menyuarakan kebaikan; dan bahwa semua pencarian pada akhirnya adalah pelayaran pulang menuju Sumber Paling Sejati.

Transformasi ini adalah sebentuk tawasul intelektual dan kreatif yang terdalam. Ketika seorang santri-sosiolog menulis catatan fenomena sosial di sebuah desa, ia sebenarnya sedang membangun sanad baru: dari subjek penelitiannya yang penuh hikmah lokal, melalui lensa teori Barat yang ia kritisi, lalu disaring oleh kesalehan pandangannya sebagai muslim yang terdidik dalam tradisi pesantren. Sanadnya adalah jejak kejujuran metodologis dan kesalehan epistemologis serta tanggung jawab moral aksiologis.

Begitu pula santri-penyair. Setiap puisinya adalah matan yang disampaikan dengan isnad estetika: ia belajar dari Sapardi Djoko Damono, tetapi ruhnya menggali zikir dari Jalaluddin Rumi; ia mengakui Chairil Anwar sebagai gurunya dalam estetika bahasa, namun sukmanya tetap berbaiat pada semangat KH A Mustofa Bisri yang menjadikan kata sebagai doa.

Demikian juga santri-novelis: kisah fiksionalnya adalah khazanah hikmah yang disusun dengan sanad naratif. Plot yang ia bangun mungkin belajar dari Pramoedya Ananta Toer dalam ketajaman sejarah, atau dari Mochtar Lubis dalam ketajaman kritik; namun nafas spiritual yang mengalir di antara adegan-adegannya berasal dari riwayat hidup para wali, dari kisah dalam Ihyâ’ `Ulûmi ‘d-Dîn al-Ghazali, atau dari tutur lirih KH Abdurrahman Wahid tentang kemanusiaan. Tokoh-tokoh rekaannya mungkin berjalan di jalanan Jakarta yang modern, tetapi pergulatan batin mereka adalah cermin dari tafsir tasawuf yang pernah didengarnya di sudut surau.

Di sini, sanad tidak lagi berupa silsilah tertulis, melainkan jaringan pengakuan dan penghormatan yang hidup —sebuah kesadaran bahwa kreativitas tidak lahir dari kekosongan, tetapi dari percakapan panjang dengan tradisi, dengan guru, dengan teks, dan dengan zaman. Setiap kata yang ditulis adalah ikrar: “Aku tak sendirian; aku berdiri di pundak para raksasa, dan dari sanalah aku melihat lebih jauh.” Dengan kata lain, sanad mereka adalah pengakuan yang rendah hati, “Aku bukan pencipta, aku hanya penerus yang mencoba menyambung cahaya itu dengan caraku sendiri.”

Maka, di sini, sanad menemukan makna barunya yang paling intim: ia menjadi kompas batin di tengah samudera wacana yang tak bertuan. Ia adalah suara dari dalam yang berbisik, “Dari siapa kau belajar? Untuk apa kau menulis? Kepada siapa kau akan mempertanggungjawabkan semua ini?” Dalam dunia yang mabuk dekonstruksi, sanad adalah pijaran kesadaran bahwa tidak ada ilmu yang benar-benar yatim, tidak ada kreativitas yang lahir dari kekosongan mutlak.

Setiap pencarian, bahkan yang paling personal dan modern, tetap butuh sebuah “rantai” untuk tidak tersesat —rantai nilai, rantai etika, rantai tujuan hidup. Dengan demikian, menjadi santri-sosiolog atau santri-sastrawan yang “bersanad” adalah pernyataan hidup: bahwa aku adalah mata rantai yang sadar posisi; menghormati sumber-sumberku, mengolah warisanku dengan kritis, dan kelak akan mewariskan amanah ini kepada yang datang setelahku —sebuah sanad yang tak tertulis di kertas, tetapi terpatri dalam integritas dan karya.

Dengan demikian, “bersanad” dalam konteks ini adalah sebuah sikap epistemologis dan etis: kesadaran untuk berendah hati menerima warisan masa lalu, kritis dalam mengolahnya, dan bertanggung jawab dalam menyebarkannya, sambil tetap terhubung secara sadar dengan akar spiritual dan intelektualnya di pesantren. Ini adalah bentuk modernisasi yang bermartabat, di mana tradisi tidak ditinggalkan, tetapi justru menjadi landasan untuk melompat ke masa depan. Inilah sanad intelektual dunia santri kontemporer, sanad dalam bingkai al-muhâfadhah ala ‘l-qadîmi ‘s-shâlih wa ‘l-akhdzu bi ‘l-jadîdi ‘l-ashlah (merawat tradisi yang baik; berinovasi dengan lebih baik).

Ujian Sanad

Namun justru di titik perluasan makna inilah, konsep sanad menghadapi ujiannya yang paling serius. Jika sanad direduksi menjadi sekadar “kesadaran etis”, ia berisiko jatuh menjadi simbol kosong —sebuah lencana moral yang diklaim, tetapi tidak bekerja. Tidak setiap pengakuan diri sebagai “bersanad” otomatis bermakna. Sanad etis hanya sah sejauh ia beroperasi, bukan sekadar diucapkan. Tanpa mekanisme disiplin —baik metodologis, moral, maupun spiritual— sanad mudah berubah menjadi ornamen identitas, bukan struktur tanggung jawab.

Di sinilah perbedaan mendasarnya dengan sekadar acknowledgement akademik. Acknowledgement adalah pengakuan genealogis yang bersifat informasional: menyebut siapa yang mempengaruhi, buku apa yang dibaca, atau teori apa yang digunakan. Sanad, sebaliknya, adalah pengakuan yang mengikat secara etis. Ia tidak berhenti pada “dari siapa aku belajar”, tetapi meluas pada “bagaimana aku berhak berbicara” dan “kepada siapa aku mempertanggungjawabkan ucapanku”. Acknowledgement berfungsi mencatat jejak intelektual; sanad berfungsi membatasi kesewenang-wenangan klaim dan menuntut adab dalam berpengetahuan. Yang pertama bersifat deklaratif; yang kedua bersifat normatif dan disipliner.

Karena itu pula, tidak semua santri-penulis otomatis bersanad hanya karena latar pesantren melekat pada biografinya. Bersanad bukan status sosial, melainkan sikap epistemologis yang aktif. Ia menuntut kesadaran akan posisi diri dalam rantai transmisi, kesediaan untuk dikoreksi, serta komitmen untuk tidak memutus hubungan antara kebebasan kreatif dan tanggung jawab etis. Santri yang menulis tanpa disiplin adab, tanpa kesadaran batas otoritas, dan tanpa orientasi amanah, sejatinya sedang memproduksi kata-kata yang yatim —meskipun ia pernah lama tinggal di pesantren. Dalam pengertian ini, sanad bukan warisan otomatis, melainkan amanah yang harus terus-menerus dipilih dan dihidupkan.

Mari kita melangkah lebih jauh. Sejak fase pertama munculnya konsep sanad dalam tradisi keilmuan Islam, ia telah dibangun di atas prinsip fundamental yang disuarakan oleh Abdullah bin Mubarak, seorang tokoh generasi tâbi`u `t-tâbi`în, generasi ketiga dalam sejarah Islam: al-isnâdu mina ‘d-dîn, wa lawlâ ‘l-isnâd laqâla man syâa mâ syâ’a, ‘sanad adalah bagian dari agama, dan tanpa sanad, siapa pun dapat mengklaim apa pun’. Pernyataan ini bukan sekadar pujian terhadap sebuah metode, melainkan fondasi filosofis yang menjaga kemurnian dan otoritas transmisi pengetahuan dalam Islam.

Pada fase awal, prinsip ini bekerja ketat sebagai mekanisme verifikasi historis, membedakan antara hadis sahih dan palsu dengan menuntut kejelasan rantai narasi hingga Rasulullah. Namun, roh dari ungkapan ini — yaitu tanggung jawab atas klaim dan penolakan terhadap kesewenang-wenangan— terus hidup dan berevolusi seiring transformasi sanad ke ranah yang lebih luas. Ia menjadi penjaga moral dari setiap perluasan otoritas, baik dalam tarekat maupun keilmuan, sehingga setiap klaim spiritual atau intelektual tidak jatuh menjadi mainan hawa nafsu atau kepentingan sepihak.

Ketika sanad berkembang memasuki ranah tarekat dan keilmuan Islam umum, prinsip Abdullah bin Mubarak ini tetap menjadi penopang yang kokoh, meski bentuknya beradaptasi. Dalam tarekat, ungkapan “tanpa sanad, siapa pun dapat mengklaim apa saja” berubah menjadi benteng terhadap klaim-klaim spiritual yang liar. Sanad tarekat —yang diwujudkan melalui ijazah dan baiʿat —memastikan bahwa amalan, wewenang, dan transmisi barakah tidak diambil alih oleh orang yang tidak memiliki hubungan sah dengan guru-guru sebelumnya.

Demikian pula dalam transmisi ilmu tafsir, fikih, atau tasawuf, sanad menjadi penanda bahwa pemahaman yang disampaikan bukanlah hasil tafsir pribadi yang sembarangan, melainkan telah melalui mata rantai pembelajaran yang terjaga, di mana setiap guru bertanggung jawab atas apa yang diteruskan kepada muridnya. Di sini, sanad bukan lagi sekadar alat kritik historis, melainkan sistem akuntabilitas spiritual dan intelektual yang menjaga agama dari distorsi dan penyimpangan.

Dalam konteks pesantren, prinsip ini menemukan bentuknya yang paling hidup dan nyata. Ketika seorang kiai mencatat dengan saksama sanad Shahîh Bukhârî-nya, atau ketika seorang santri dengan khidmat menerima ijazah untuk mengajarkan sebuah kitab, mereka sebenarnya sedang menghidupkan kembali pesan Abdullah bin Mubarak: bahwa tanpa mata rantai yang jelas, ilmu bisa berubah menjadi komoditas bebas yang rentan diselewengkan.

Di tangan para santri-sosiolog atau santri-sastrawan masa kini, prinsip yang sama tetap relevan, namun dalam bentuk baru. Dalam menulis perubahan sosial atau karya sastra, “sanad” mereka adalah jejaring kejujuran metodologis dan integritas inspirasi —sebuah pengakuan jujur dan tulus dari mana mereka belajar, melalui filter nilai apa mereka menafsir, dan kepada siapa mereka mempertanggungjawabkan karyanya.

Dengan demikian, dari masa ke masa, sanad tetap menjadi seruan lantang bahwa kebenaran —baik agama, spiritual, maupun intelektual— tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah amanah yang harus disandarkan pada rantai yang dapat dipertanggungjawabkan. Tanpa sanad, klaim hanyalah omong kosong; dengan sanad, setiap kata menjadi warisan yang terjaga.

Dan kita pun tiba di pengujung renungan ini. Kita kembali pada pertanyaan yang mengawali perjalanan: di manakah sanad dalam ledakan kata-kata dunia santri kontemporer? Jawabannya tidak lagi terletak pada daftar nama guru yang linear, atau pada ijazah lisan yang disampaikan di serambi langgar. Sanad telah bertransformasi menjadi sebuah kesadaran epistemologis dan etis —sebuah kompas batin yang mengarahkan setiap kata, baik yang lahir dari nalar dingin akademik maupun dari rindu hangat sastra.

Ledakan kata-kata di ruang digital tidak harus dilihat sebagai ancaman terhadap tradisi. Justru, ia adalah tantangan kreatif bagi santri masa kini untuk menemukan bentuk baru sanad —sanad yang tidak hanya menyambungkan teks kepada teks, tetapi juga menyambungkan makna kepada konteks, rasa kepada zaman, dan jiwa kepada sumber cahaya yang sama. Dalam setiap artikel kritis tentang hermeneutika Al-Qur’an, dalam setiap puisi yang merindukan kiai, dalam setiap analisis sosiologis tentang gerakan santri —sanad hidup sebagai jejaring kejujuran metodologis dan integritas inspirasi.

Dialektika antara ilmu dan sastra, antara tradisi dan modernitas, antara disiplin dan kebebasan, bukanlah pertentangan yang harus dimenangkan salah satu pihak. Ia adalah tarikan napas yang sama dari sebuah generasi yang berusaha mengatakan: “Kami tidak melupakan sumber kami, tetapi kami juga tidak menutup mata pada dunia.” Sanad dalam konteks ini adalah pengakuan rendah hati: “Aku bukan pencipta, aku adalah penerus yang mencoba menyambung cahaya itu dengan caraku sendiri.” Tradisi pesantren, dengan segala keketatan sanadnya, ternyata bukan bangunan yang beku. Ia adalah organisme hidup yang bernafas, berdenyut, dan terus beradaptasi tanpa kehilangan jiwanya.

Di tengah banjir informasi yang sering kali terputus dari konteks dan makna, sanad justru hadir sebagai penjaga otentisitas dan kedalaman. Ia mengingatkan kita bahwa pengetahuan bukan hanya soal akses, tetapi juga soal penghayatan; bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga soal kesinambungan. Maka, setiap santri-intelektual, santri-sastrawan, santri-digital, dan semua yang merasa terhubung dengan dunia pesantren, kiranya perlu meletakkan satu pertanyaan reflektif di depan cermin karya mereka: “Dari siapa aku belajar? Untuk apa aku menulis? Kepada siapa aku akan mempertanggungjawabkan semua ini?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sendiri adalah bentuk sanad yang paling intim —sebuah tali-temali kesadaran yang mencegah kata-kata kita menjadi liar, mengambang tanpa muara, dan kehilangan ruhnya. Di tengah gemuruh ledakan kata-kata, sanad tetap berdiri sebagai suara hening yang mengingatkan: bahwa setiap pencarian, betapapun modern dan personal, tetap membutuhkan rantai —rantai nilai, rantai etika, rantai tujuan hidup.

Dan dalam rantai itulah, kita tidak pernah sendiri. Kita adalah mata rantai yang sadar posisi: menghormati sumber-sumber kita, mengolah warisan dengan kritis, dan kelak mewariskan amanah ini kepada yang datang setelah kita. Sanad, pada akhirnya, adalah kesadaran untuk tetap terhubung —dengan masa lalu yang penuh cahaya, dengan masa kini yang penuh tantangan, dan dengan masa depan yang penuh harapan.Wa ‘l-Lâhu ‘l-Musta`ân wa ‘l-Hâdî. []

                                         Cinangka, 26 Januari 2026

*Makalah disampaikan dalam acara Tumpengan dan Diskusi Buku Imajinasi: The Future Society Pandangan Para Aktivis Nahdliyin di kantor Jejaring Dunia Santri (JDS), Jl. Garuda II No. 7, RT 9, RW 10, Pasir Gunung Selatan, Cimanggis, Depok, Jawa Barat, 27 Januari 2026.

Biodata Penulis

Jamal D. Rahman, menulis puisi, kritik, atikel, dan esai tentang sastra, kebudayaan, dan Islam. Pernah menjadi Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Jakarta, Pemimpin Redaksi majalah sastra Horison, Pemimpin Redaksi Jurnal Sajak, Redaktur Pelaksana jurnal Islamika, redaktur Jurnal Kritik, dan mengajar sastra di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Menghadiri forum-forum sastra dari Aceh hingga Jayapura, dari Tarakan hingga Yogyakarta. Juga dari Vietnam hingga Jerman, dari Tunisia hingga Iran. Buku puisinya: Airmata Diam, Reruntuhan Cahaya, Garam-Garam Hujan, dan Rubaiyat Matahari. Menjadi kontributor dan (ko)editor lebih dari 30 buku sastra-budaya. Menerima Hadiah Majelis Sastra Asia Tenggara dari Menteri Pendidikan Malaysia Dato’ Seri Mahdzir bin Khalid, 2016. Bukunya yang akan terbit: Islam, Sastra, Pengetahuan: Pergulatan Wacana Kolonial Laut Banten, Wahdatul Wujud: Artikulasi Islam dalam Sastra Indonesia Modern, Secangkir Kopi Seorang Musafir: Esai-Esai Sastra-Budaya, dan Sejarah, Sastra, Pesantren: Pergumulan Budaya.

Tinggalkan Balasan