Menata sandal kiai, mungkin menjadi salah satu cara santri mencari barokah yang paling sering saya temukan. Bahkan cara ini, bisa dipastikan menjadi kemauan/kebiasaan dari semua santri. Sehingga tak heran, banyak santri berlomba-lomba menunggu kiai, demi menata sandal (katetean)nya. Pernah suatu ketika, ada salah seorang santri cekcok dengan sesama santri gara-gara sandal kiai. Si A sudah jelas-jelas menunggu lama dengan niat ingin menata sandal kiai, tiba-tiba datang si B dengan cepat langsung menata sandal kiai tanpa menghiraukan sosok si A yang telah menunggu lama. Akibatnya, si A tidak terima, dan terjadilah cekcok diantara keduanya.
Bagi orang yang asing dengan dunia pesantren, mungkin cara ini terkesan remeh. Tapi bagi kita, yang memang sudah lekat dengan dunia pesantren, menata sandal kiai adalah harapan yang selalu ingin kita lakukan setiap saat. Dengan ketulusan hati, kita percaya; menata sandal kiai adalah wujud memuliakan (keta’dziman) kita kepada kiai. Dengan rasa ta’dzim pula, barokah insyaAllah kita dapatkan. Kebiasaan ini para santri menyebutnya sebagai ngalap berkah.

Perlu juga diketahui, bahwa kebiasaan (menata sandal kiai) ini bukan hanya kebiasaan turun temurun yang dilakukan tanpa berlandaskan apapun. Tetapi, kebiasaan ini berangkat dari bagaimana para santri menafsirkan maqalah-maqalah orang berilmu/ulama tentang bagaimana adab dan etika di dalam mencari ilmu dan barokah. Setidaknya Syeikh Az-Zarnuji di dalam kitab Ta’limul Muta’allim menjelaskan dengan secara jelas bagaimana etika dan adab untuk mencapai kesuksesan dan keberkahan dalam mencari ilmu.
اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَايَنَالُ الْعِلْمَ وَ لَايَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظَيْمِ الْعِلْمِ وَأَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِرِهِ
”Ketahuilah sesungguhnya seorang pencari ilmu tidak akan memperolah kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya bisa akan bermanfaat, kecuali jika mereka mau mengagungkan ilmu, ahli ilmu, dan menghormati keagungan gurunya.” (Ta’limul Muta’allim, Darul Kutub Salafy, hal 37)
