“Ya, mereka mencuri di hutan negara yang dilindungi. Mencuri masa depan anak cucu kita, mencuri rumah hewan-hewan, mencuri masa depan bumi. Mereka mencuri hanya untuk kesenangan sesaat mereka!”
“Tapi ayah Matraie mengambil kayu di hutan dengan bebas, ayah Fiaton juga. Rumah mereka bagus-bagus, Rama. Sementara rumah kita, masih saja rumah panggung jelek, dan hampir roboh,” Anis meletakkan buku yang dibacanya. “Matraie dan Fiatonmembawa bukunya ke sekolah dengan tas bagus, uang jajannya banyak, sebagian ditabung di Bu Tutik. Mereka juga punya ‘tablet’ untuk bersenang-senang, punya cadangan listrik jika PLN sedang mati, dan bisa menonton televisi… Anis malu, Rama.”

“Kenapa harus malu, bhing,” tiba-tiba ibunya dengan membawa secangkir kopi panas ikut nimbrung, “meskipun tidak bagus, rumah panggung ini rumah kita sendiri. Warisan almarhumah nenekmu. Sebelum ada rezeki untuk membangun yang baru, kita harus menjaganya. Yang penting bersih, rapi, dan bisa melindungi kita dari dingin malam dan panas matahari…” ujar ibu Anis bijak sambil meletakkan kopi hitam itu di depan suaminya. Suaminya berterima kasih dengan sesungging senyum penuh arti.
Anis cemberut. Lalu ayahnya memeluk Anis dengan hangat.
“Hutan itu sangkolan, bhing. Harus kita jaga. Jika rama mencuri kayu di hutan, itu artinya ayah tidak sayang sama kamu. Uang dari hasil mencuri kayu itu uang haram. Kalau dimakan jadi daging haram. Membangun rumah dari uang haram juga akan menjadi rumah haram. Tidak ada ketenangan di rumah macam itu. Di samping itu jika ditebang sembarangan, hutan akan menjadi gundul. Jika hutan gundul akan terjadi banjir, tanah longsor, udara panas karena hutan adalah paru-paru bumi. Kita harus menjaga bumi kita. Lebih-lebih Indonesia kita.”
Anis merenung dalam pelukan ayahnya yang hangat. Dia ingat dampak penebangan hutan yang dipelajari di sekolah.
Tiba-tiba terdengar deru mesin mobil. Anis bangkit lalu mengintip lewat jendela. Sebuah mobil SUV melintas. Di bagian kap mobil itu terdapat rotator dengan lampu warna biru. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Matraie, tetangga, dan teman sekelasnya. Tiga lelaki tegap masuk ke rumah Matraie. Beberapa menit kemudian, ayah Matraie digiring menaiki mobil itu. Sebuah mesin senso turut dibawa. Matraie menjerit-jerit menangis, meminta agar ayahnya jangan dibawa pergi. Begitu pula ibunya. Tak lama, mobil itu berjalan lalu menghilang ditelan gelap malam.
Dari balik jendela, hati Anis ciut. Dia berjanji tidak akan lagi meminta ayahnya mengambil kayu di hutan. Meskipun rumah panggung dan tidak mentereng, dia bersyukur masih memiliki rumah.
“Rumahku istanaku,” ujarnya lirih.
Keterangan:
Sangkolan (Madura) : harta (tanah/pusaka) warisan yang harus dijaga atau dilestarikan. Orang Madura meyakini, menjual atau merusak sangkolan bisa mendatangkan tulah.
Emik, mik (Kangean) : panggilan kepada Ibu
Cebbhing, bhing (Madura) : panggilan sayang kepada anak perempuan
Pulau Cukir : julukan Pulau Kangean. Terletak kurang lebih 67 mil (laut) dari kota Kabupaten Sumenep. Di Pulau Kangean terdapat Hutan (Jati dan Rimba) seluas kurang lebih 25.678,80 ha.
Ikan Lajang : Ikan layang (decapterus)

Sebuah cerpen yang nampaknya realistis sesuai dengan kenyataan di tahun 90an. Bahkan di Jember ada orang yang dijuluki Haji Sejati, karena uang untuk biaya naik haji didapat dari menjarah kayu jati. Nauzubillah,,,