Santri, Akhlak, dan Kitab Kuning

Sebut saja misalnya KH Hasyim Asy’ari, ulama sekaligus pemikir ulung, merupakan seorang ilmuwan dan sekaligus sebagai Pahalawan Nasional. Beliau adalah pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesai, yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Lalu KH Wahid Hasyim, seorang tokoh yang luara biasa dalam kiprah dan turut serta membangun bangsa Indonesai.

KH Abdurrachman Wahid (Gus Dur), adalah tokoh yang juga lahir dari dunia pesantren. Bahkan Gus Dur sempat menjabat sebagai presiden RI ke-4. Ada KH Ahmad Dahlan, tokoh sekaligus ilmuwan yang mendirikan oragnisasi Muhammadiyah pada tahun 1912. Dan masih banyak lagi ilmuwan dan tokoh yang lahir dari dunia pesantren yang tidak mungkin disebutkan satu per satu dalam artikel singkat ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tadris Kitab Kuning

Pesantren tidak dapat dipisahkan dengan kitab kuning. Dalam kepesantrenan, kitab kuning menjadi karakter khusus dan menjadi ciri khas di lembaga ini. Kitab kuning merupakan sebutan untuk sebuah kitab yang (umumnya) ditulis dan terdiri dari bahasa Arab. Kitab kuning, dalam pendidikan agama Islam (baca: pesantren), merujuk kepada kitab-kitab tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam yang diajarkan pada pondok-pondok pesantren, mulai dari fikih, akidah, akhlak, tata bahasa Arab, hadis, tafsir, ilmu Al-Quran, hingga pada ilmu sosial dan kemasyarakatan (Wikipedia).

Tadris atau pelajaran kitab kuning tidak terlepas dari kaidah bahasa Arab, yaitu ilmu nahu dan saraf. Kedua cabang ilmu ini —juga dicetak dalam bentuk kitab kuning— merupakan aspek ilmu yang mempelajari bagaimana cara memahami, membaca, dan mengerti terhadap kitab yang notabene berwarna kuning (tidak semua, tapi mayoritas).

Terkait dengan kitab kuning yang menjadi ciri khas lembaga pesantren, maka menjadi seorang santri harus memahami dan mengerti kitab khas pesantren ini. Sebab seorang santri, yang belajar di sebuah lembaga pesantren, dalam keseharian tidak lepas dari tadris pelajaran kitab kuning. Dalam kitab yang membahas beragam tema atau materi, baik dari aspek keislaman maupun lainnya, menjadi jiwa seorang santri. Jika ada komitmen serta keseriusan dalam belajar, kitab yang biasa disebut dengan “kitab turos” ini mudah kita pahami.

Tinggalkan Balasan