Santri dan Honor Menulis

Saya menulis topik itu dalam bahasa Inggris, kemudian diberikan kepada guru saya, native spaker dari USA, Brian Hermon, untuk dikoreksi. Semula tulisan itu berjudul Oh The Birds, tapi kemudian diganti oleh guru bahasa Inggris saya menjadi Unfurtunately Birds, termasuk beberapa susunan kalimat yang kurang baik.

Saya tidak terlalu sering berkirim tulisan ke media. Namun, ada beberapa yang dimuat dan mendapat honor. Termasuk di antara tulisan saya yang mendapat apresiasi tentang eksistensi burung di atas. Setelah menunggu entah beberapa waktu lamanya, tiba-tiba datang wesel pos (saya belun kenal rekening bank saat itu), yang memberitahukan bahwa itu adalah honorarium dari tulisan saya di Surabaya Pos.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada saat itu tahun 1990-an, sekitar tahun 1991 atau 1992, saya lupa pastinya. Mendapat honor Rp 150 ribu sungguh bukan jumlah kecil pada waktu itu. Harga premium masih di bawah Rp 1.000. Jadi, kalau saya belikan premium pada saat itu, mungkin saya bisa membuka outlate POM Mini. Uang kiriman saya pada saat itu Cuma Rp 10.000 per bulan. Jadi, seharusnya saya tidak perlu kiriman orang tua selama 1 tahun 3 bulan. Hee… itu dalam hitung-hitungan angka, kenyataannya saya tetap dikirim normal setiap bulan dari rumah.

Jadi, honor pertama menulis sudah saya dapatkan ketika saya masih menjadi santri aktif. Itu artinya, sejak awal pesantren telah menjadi basis pembentukan iklim kepenulisan. Menurut cerpenis Juwairiyah Mawardi, “Santri secara fisik memang terpenjara. Namun, imajinasi dan pemikirannya melanglang buana menembus batas dan berkelana ke seantero jagat.”

Tinggalkan Balasan