Santri Mustamik

Namun, di sisi lain, jika kita membaca buku Pesantren Studies karya Ahmad Baso, akan ditemukan nomenklatur yang sama sekali tidak ditemukan di buku anggitan Zamkhsyari Dhofier tadi. Yakni, santri mustamik. Siapa itu santri mustamik?

Mustamik secara bahasa berarti orang yang mendengarkan. Jika kata mustami` disandingkan dengan santri, maka dapat diartikan dengan santri pendengar. Begitulah singkatnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika merujuk pada syair bait di muka, maka santri pendengar atau santri mustamik ini hanya mengamalkan nilai kedua saja, yakni hirshin. Dalam hal ini, santri mustamik diartkan sebagai santri yang hanya memerhatikan dan mendengarkan kiai atau guru. Namun tak dinafikan pula, jika santri mustamik mengamalkan beberapa nilai sekaligus yang termaktub dalam syair tersebut.

Para santri mustamik tersebut setidaknya memiliki usaha dan tekad yang kuat dalam mendengarkan dawuh-dawuh dari lisan mulia para kiai. Dalam keseharian, para santri mustamik ini pun tidak selalu berada di sekitar para kiai, namun hanya pada momen tertentu saja ketika bertamu untuk sowan atau menghadiri berbagai majelis dan pengajian.

Dalam relasinya, yakni, antara kiai dan santri mustamik memiliki hubungan yang dialogikal. Yaitu melalui dua cara, yakni, kiai mendekati masyarakat lalu dijadikan sebagai santri mustamik. Atau, pun para masyarkat mendekati lalu menjadi pendengar setia para kiai.

Tinggalkan Balasan