Santri, Pancasila, dan Nasionalisme

Santri yang baik akan memiliki rasa cinta tanah air yang begitu besar. Artinya bahwa sebagai seorang santri yang memiliki dasar-dasar agama yang mendorong nilai-nilai nasionalisme (cinta tanah air), seharusnya menunjukkan kepada masyarakat bagaimana menerapkan nilai-nilai hubbul wathan dalam keseharian. Memberikan kemaslahatan hidup serta tidak melakukan pelanggaran (baik agama atau pemerintah), maka seorang santri sudah dapat dipandang oleh khalayak sebagai individu nasionalis.

Cinta tanah air dan seorang santri sama sekali tidak ada pertentangan. Bahkan sebaliknya, antara santri dan cinta tanah air bagaikan dua sisi mata uang, di mana sisi yang satu memberikan nilai kebaikan bagi sisi yang lainnya. Memantapkan diri sebagai santri yang cinta tanah air dengan cara memberikan aktivitas terbaik bagi kehidupan serta bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam bahasa agama, “khoirunnas ‘anfa’ uhum linnas,” sebaik-baik manusia adalah yang memberikan manfaat kepada manusia lainnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nilai Luhur Pancasila

Pancasila dengan segala nilai luhur yang ada didalamnya dibangun atas dasar nasionalisme dalam pluralisme bangsa. Oleh karena itu, maka tidak boleh terjadi ungkapan ataupun tindakan yang akan menciderai amanat Pancasila, utamanya dalam menjaga persatuan dan kesetuan bangsa. Sebagai bangsa yang beradab, menjaga keutuhan jiwa pemersatu adalah suatu kewajiban yang harus tetap dijaga. Ungkapan yang memantik perpecahan harus dijauhkan dari komunikasi komunitas bangsa yang pluralis.

Pancasila lahir untuk menjadi wadah pemersatu bangsa di atas kondisi kita yang beragam. Berbagai suku, adat istiadat, kepercayaan, agama, dan bermacam-macam karakter dan warna kulit disatukan di atas dasar Pancasila. Oleh karena itu 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila kita jadikan momentum untuk meneguhkan rasa cinta tanah air, nasionalisme, patriotisme, persatuan, kesatuan, dan saling menghargai antara satu individu dengan individu lain yang berbeda.

Terkait dengan pluralisme sebagai sunnatullah, Allah berfirman, “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujarat: 13). Ayat ini menegaskan bahwa keadaan umat di dunia diciptakan dalam keadaan pluralis, berbeda antara satu dengan lainnya agar terjadi saling menghargai dan saling memahami.

Tinggalkan Balasan