Seabad NU, Berabad-abad Ke-NU-an

Misi pertama NU di tingkat global ini terbilang sukses diukur dari dua hal. Pertama, kebebasan dalam menganut mazhab dan menjalankan praktik keagamaan di pusat perkembangan Islam dunia itu tetap terjaga sehingga masyarakat muslim dunia memperoleh jaminan dapat menjalankan praktik keagamaan sesuai dengan keyakinan masing-masing. Kedua, menurunkan ketegangan dan kekhawatiran di negeri-negeri muslim sebagai dampak dari gelompang pasang gerakan “purifikasi agama” yang didorong dari Arab Saudi.

Sementara itu, di tingkat lokal, mayoritas masyarakat muslim Nusantara memperoleh tekanan dari dua arah sekaligus. Yang pertama dari hantaman gelompang pasang gerakan “purifikasi agama” yang digerakkan kaum Wahabi. Yang kedua dari penindasan kaum penjajah, terutama dari penjahan yang dilakukan Belanda dan kemudian Jepang. Itulah yang menjadi keprihatinan ulama-ulama Nusantara yang kemudian mendirikan NU.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Misi pertama NU di tingkat lokal ini juga terbilang sukses diukur dari dua hal. Pertama, NU berhasil membentengi dan melindungi masyarakat muslim Nusantara dari gempuran gelombang pasang gerakan “purifikasi agama” Wahabisme. Sebab, jika tak ada pengadangan dan perlindungan itu, sangat mungkin terjadi konflik dan pertentangan di tingkat akar rumput dan umat Islam akan tercerai berai. Berkat NU, tradisi dan praktik keagamaan masyarakat muslin Nusantara lestari hingga kini.

Kedua, NU memiliki andil sangat besar dalam menyatukan dan menggerakkan rakyat dalam melakukan perlawanan terhadap kaum penjajah. Bahkan, NU memiliki peran sangat besar dan strategis dalam membidani lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), termasuk dalam perumusan ideologi dan dasar negara. Pada babakan-babakan krusial berikutnya pasca-kemerdekaan, NU selalu menjadi pelopor dan pilar utama dalam membela dan menjaga tegaknya NKRI.

Dua wilayah itu, yaitu tradisi keberislaman masyarakat muslim Nusantara dan keutuhan NKRI, yang selama seabad ini benar-benar dirawat dengan begitu gemati oleh NU. Kenapa? Karena keduanya merupakan satu kesatuan bak rajutan benang pada sehelai kain, yang keduanya tak bisa dipisahkan atau saling menegasikan. Jika yang satu koyak, maka otomatis akan mengoyak yang lain juga.

Untuk yang pertama, merawat tradisi keberislaman masyarakat muslim Nusantara, NU benar-benar total dalam berkhidmah dalam bidang pendidikan, terutama melalui pondok pesantren dan madrasah. Begitu intensifnya dalam mengembangkan pendidikan melalui pondok pesantren dan madrasah yang distigma sebagai lembaga pendidikan tradisional, hingga NU sendiri memperoleh cap sebagai komunitas tradisionalis, kolot, jumud, dan bahkan anti-kemodernan —yang biasanya diperlawankan dengan Muhammadiyah yang modernis.

Tapi pandangan miring terhadap model pengembangan pendidikan ala NU tersebut pada akhirnya terbantahkan. Pondok pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional yang tertua di Indonesia ternyata tak pernah mati, bahkan terus bertumbuh dengan subur di seluruh pelosok negeri. Ia juga terus bertransformasi sesuai dengan tuntutan dan perkembangan zaman. Dengan berbagai klasifikasinya, kini tercatat di Indonesia sedikitnya ada sekitar 28,8 ribu pondok pesantren. Dari jumlah itu, sebanyak 23.372 pesantren berada di bawah Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU.

Untuk yang kedua, yaitu merawat keutuhan NKRI, NU mengambil jalan politik “kelas tinggi”, yaitu apa yang disebut sebagai politik kebangsaan dan politik kerakyatan. Apa yang ditempuh NU di jalan politik itu semata-mata memang untuk menjaga keutuhan NKRI. Untuk itu, ada masanya NU menjadi partai politik sendiri, atau menjadi bagian dari partai politik tertentu (seperti Partai Persatuan Pembangunan di masa Orde Baru), atau memiliki partai politik untuk warganya (seperti pada Partai Kebangkitan Bangsa), atau mengambil jarak yang sama dengan seluruh kekuatan politik.

Atas kiprahnya di dunia politik seperti itu, NU pernah memperoleh stigma sebagai organisasi yang oportunis atau penjilat kekuasaan karena tidak pernah bersikap keras atau bahkan memberontak pada pemegang kekuasaan. Pada akhirnya terbukti, NU dikenal sebagai organisasi yang paling lentur dalam berpolitik, dan tak bisa “dimatikan” pun oleh penguasa Orde Baru, dan terus bertransformasi hingga kini menjadi kekuatan politik terbesar di negeri ini. Jika ada kekuatan politik yang akan mengacak-acak NKRI, misalnya, maka ia harus berhadapan dengan kekuatan NU. Sampai ada ungkapan, jika ingin menguasai atau menghancurkan NKRI, maka yang harus dirongrong adalah NU.

Struktutal dan Kultural

Tinggalkan Balasan