Sebab “Sulam Safinah” Mengabadi

Keserasian lain dapat diamati melalui analogi dari nama masing-masing kitab. Sullam al-Taufiq Ila Mahabbatillah ‘Ala al-Taufiq dapat kita artikan sebagai ‘tangga mendapat pertolongan Allah menuju cinta-Nya yang pasti’, sementara Safinat al-Naja Fi Ma Yajibu ‘Ala al-’Abdi li al-Maulah dapat kita artikan ‘perahu keselamatan mengenai hal-hal yang wajib atas manusia untuk Tuhannya’.

Maksudnya, bagaimana mungkin seseorang bisa naik perahu jika tanpa tangga? Artinya tanpa keduanya pelayaran sulit dilakukan. Begitulah kiranya apa yang saya tangkap dari keterangan guru saya secara lisan dan temurun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Meski begitu, bukan berarti tidak ada kitab lain yang bisa menggantikan salah satunya. Namun dalam konteks fenomena ini, alasan tersebut juga masuk akal bagi penulis.

Analogi tersebut akan sedikit beralasan jika kita bergeser pada apa yang diibaratkan Sayyid Bakri bin Muhammad Syatha al-Dimyathi dalam Kifayat al-Atqiya’ wa al-Minhaj al-Ashfiya. Dijelaskan bahwa takwa hakikatnya merupakan interkoneksi dari syariat (pengamalan), hakikat (kebenaran), dan makrifat (pengetahuan) melalui tarekat (proses atau jalan).

Dalam kitab tersebut, syariat diibaratkan perahu, tarekat sebagai lautan, hakikat adalah pulau yang dituju, sedang makrifat adalah tujuan dari perjalanan, yakni pertemuan dengan pemilik pulau (Allah) (al-Dimyathi, Kifayat al-Atqiya’, Dar al-Kutub al-ilmiyah: 2013, 39). Wa Allahu al-‘A’lam.

Tinggalkan Balasan