PONDOK KAYU
sepasang doa masih tereja dalam bismillah
saat kaki-kaki beranjak dari renung sepi
dan udara bersaksi pada pagi
bahwa pondok ini menyimpan shirathal mustaqiim

alam membacakan ayat mimpi tanpa deru
merangkai kenang dalam menunggu pulang
dan surga tersimpan pada sepetak angina
yang memulai angan dari subuh hingga isya berlalu
kayu-kayu terangkai bersama kabar sepi
yang tak pernah lelah mengamini doa-doa
meski padam terkadang menjamah bahagia
dari perbincangan-perbincangan yang berakhir, pulas
terdengar jeritan pintu-pintu terbuka
yang perlahan rapuh termakan masa lalu
ada yang hampir kehilangan bersama waktu
ada yang hampir terlepas bersama kepergian
selayaknya pengungsi menaburkan doa-doa,
sampai kapan pondok kayu ini melepas masa lalu?
pertanyaan-pertanyaan masih mengulang arti
sebuah perjalanan terlindung dari seperti
meski jawaban abadi dalam ketidaktahuan
dan sesekali menjadi pengulangan kembali
pondok kayu hanyalah kota air mata
mimpi-mimpi berdatangan dari balik sunyi
dan tiba-tiba malam berhenti dalam hening
memenuhi kitab-kitab keabadian nan suci
menjadi bismillah setiap tidur dan bangun
menjadi alhamdulillah setiap melangkah dan berhenti
menjadi alfatihah setiap memulai dan mengakhiri
menjadi subhanallah setiap melihat dan membuta
di pondok kayu ini tersimpan nur
dan doa-doa para ibu yang mengorbankan
rasa rindu; peluh ayah yang mengorbankan
jiwa pada keramaian kota di kepalanya sendiri
Jate, 25 Desember 2021.
ASSALAMUALAIKUM, EMBUN PAGI
tarhim membangunkan jantung dari malam
suara-suara saling membentur berahi mata;
pecah dan memenuhi penyambutan di altar
yang membangkitkan ingatan dari lelap
dalam lupa tak abadi–hanya seenaknya saja
