Selawat Pertama Runa

Pesan itu dikirim Umi Hana bertepatan dengan jadwal selawatan di halaman, jadi belum sempat Runa membalas chat umnya.

“Runa, ayo! Buruan ke halaman, nanti ndak dapet tempat, loh,” ajak Mba Inuy dengan semangat mengajaknya ke halaman segera.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Iya mbak, ini lagi make kerudung sebentar.”

“Oke, mba tunggu ya.”

Lima menit kemudian, selesailah Runa dengan dress putih dan kerundung putih pula. Dia berjalan bersama Mba Inuy menuju halaman. Tapi ada yang aneh baginya. Di jalan ia melihat banyak santri putri yang berdandan dengan tidak biasanya. Memakai lipstik, bedak, dan celak dengan mencoloknya. Mendadak dia teringat kata Mba Inuy, kalau di halaman bisa melihat santri tampan.

“Astaghfirullah, kenapa suudzon ini terus meliputi hati kecilku,” Runa menggumam.

Selawat pun dimulai. Runa diajak Mba Inuy duduk di tengah-tengah lautan santri putri. Di halaman ini, santri putri dan putra menjadi satu tempat, tetapi tetap disekat. Melihat semangat dan kebahagiaan santri-santri yang lain, rasanya dia belum bisa menjadi seperti mereka. Sehingga Runa memilih banyak diam dan berpikir, bagaimana bisa mereka suka selawat seperti ini….

“Runa, kamu baru pertama kali ikut selawatan seperti ini ya ?” tanya Mba Inuy.

“Hee, iya mbak.”

“Ada sesuatu yang ingin kamu tanyakan?” tanya Mba Inuy dengan lembut. Tidak bar-bar sebagaimana di kamar, Mba Inuy terlihat lebih dewasa saat mengobrol berdua. Tatapannya begitu jujur dan penuh kasih sayang.

“Mba, kenapa sih, banyak yang berdandan mencolok di acara selawatan ini? Mereka kan bisa kelihatan sama santri putra?”

Mba Inuy tersenyum.

“Niat itu ada di dalam hati, Runa. Kita seperti ini karena berniatkan bertemu dengan Kanjeng Nabi Muhammad. Jadi kita berusaha secantik mungkin. Sebagaimana mereka yang di luar sana yang hendak bertemu kekasih, tentu memakai pakaian dan berdandan secantik mungkin untuk kekasihnya. Dan malam ini, kita akan bertemu kekasih sejati, bagaimana kami tidak mempercantik diri,” jawabnya.

Runa tertohok dengan jawaban Mba Inuy.

“Lalu, kenapa kita di acara puncak malah selawatan. Ndak pengajian atau lainnya?”

“Karena majelis-majelis selawat adalah majelis cinta. Kamu tahu, selawat itu ibadah yang sungguh luar biasa. Coba deh, salat, zakat, puasa, haji, apakah Allah melakukan ibadah itu semua?”

“Tentu tidak Mba.”

“Tapi lihatlah, dalam Al-Qur’an surah at-Taubah, disebutkan bahwasanya Allah pun ikut berselawat kepada Nabi Muhammad. Betapa istimewanya selawat, bukan?”

Tetiba Runa meneteskan air mata. Berduka atas hatinya yang penuh buruk sangka dan betapa bodohnya ia soal ilmu agama.

Tinggalkan Balasan