Selawat Sakti

“Tidak. Apakah mengganti kaca yang sudah tidak layak dengan kaca yang baru itu perbuatan merusak? Aku rasa tidak. Malah, itu perbuatan menjaga.”

“Jika kita ganti kacanya, apakah akan kembali wangi?” Hawa balik tanya. Rijal hanya mendengus dan geleng-geleng.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mas!” panggil Hawa dari depan kulkas.

“Ya.” Rijal menghentikan gelas di depan mulutnya.

“Mas, kan, sering balik dari kantor petang dan waktu Maghrib masih di jalan karena macet, sampai rumah jamaah Isya sudah rampung, itu artinya ….”

“Tidak saat Maghrib! Kamu mendikte salatku, toh!” sahut Rijal keras.

“Bukan itu maksudku.”

“Lantas!”

“Selama ini, kita berdua selalu jamaah salat Isya dan jamaah Subuh, tetapi Maghrib ….”

“Sudah, sudah! Aku tahu arah omonganmu!” bentak Rijal memotong kalimat istrinya, terus kabur keluar. Di luar Rijal menutupi mobil dengan body cover.

Rampung menyelimuti mobil, Rijal berseru kepada Hawa untuk mengambilkan rokok dan kopi jahe yang belum sempat ia nikmati.

“Mas, mobil itu kreditkah?” selidik Hawa seraya menaruh wedang dan sebungkus sigaret filter di meja, lantas ikut duduk di teras. Rijal menjawab setelah menyeruput wedang dan menyulut sebatang rokok.

“Semua surat-surat lengkap dengan faktur pembayaran lunas. Tuh, ada di tas hitamku.”

“Itu mobil mewah, lho, Mas?”

“Iya, kenapa?” jawab Rijal sambil menikmati rokoknya, sorot matanya ke depan, fokus ke mobil.

“Mas, ti … tidak korupsi, kan?” tegur Hawa sedikit gemetar. Rijal terentak, matanya spontan mendelik ke arah istrinya.

“Asal kamu tahu, ya! Sudah sewajarnya, jika aku sebagai pimpinan staf di pemerintahan daerah yang juga punya wewenang mutlak untuk memutuskan kontraktor mana atau PT apa yang memenangkan tender proyek peremajaan jalan raya, cor beton, dan pembangunan GOR pada tahun ini. Sebagai rasa terima kasih kontraktor yang terpilih, maka aku dikasih kompensasi berupa mobil mewah itu. Apa itu namanya korupsi, hah!”

“Tidak. Tetapi itu penyuapan,” protes Hawa.

“Penyuapan bagaimana! Itu aturan sah sejak zaman bahula. Coba kamu minta stempel ke kantor instansi pemerintah. Pasti kamu akan meninggalkan amplop, meskipun dua puluh ribu isinya!” kelit Rijal dengan dada naik-turun, “Sudah, sana masuk!”

Hawa membisu, melangkah masuk rumah dan hendak memberesi pigura berikut peralatan pembersih yang berserakan di meja. Namun, ia tercengang, kedua matanya nanap saat melihat kaca pigura itu kian banyak bintik-bitik hitam. Hitam yang gelap. Tidak terlihat lagi bendera Merah Putih dan tulusan selawat sakti.

Demak, 2021.

Kosa kata:

  1. Kamar / ruang khusus untuk salat di dalam rumah.
  2. Tasyahud (duduk tawaruk atau duduk di akhir salat )
  3. Kempling (mengkilat, anyar gres, terbaru).

2 Replies to “Selawat Sakti”

Tinggalkan Balasan