Demografi santri di Minhajut Thullab juga mencerminkan keragaman masyarakat hasil transmigrasi di kawasan tersebut. “Selain anak-anak dari keluarga eks-transmigran, alhamdulillah ada juga dari keluarga Tolaki dan Bugis,” jelasnya.
Dulu, untuk menjemput santri baru, pengurus pondok harus berkeliling menggunakan bus. Kini, dengan hadirnya media sosial, jangkauan dakwah dan pendidikan mereka meluas ke berbagai daerah. “Sekarang sudah ada yang datang dari Manokwari, Halmahera, Bali, bahkan Jayapura — asli Papua,” ujar Ustaz Wildan. “Kalau dari Sultra sendiri, ada juga dari Kolaka, Kendari, dan Buton. Barokahnya ceramah,” tambahnya.

Menggerakkan Ekonomi
Dengan semangat melatih kemandirian santri, pesantren yang berlokasi di pusat Kecamatan Buke ini membangun sistem ekonomi terpadu dari hulu ke hilir. Mereka mengelola hasil pertanian sendiri mulai dari pengolahan padi dengan mesin combine, produksi beras, hingga distribusi hasilnya.
Tidak berhenti di situ, hasil beras yang diproduksi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pondok sekaligus dijual kembali kepada masyarakat sekitar. Dari sini, muncul berbagai unit usaha mandiri seperti minimarket pesantren, hingga air minum kemasan. Model kemandirian ini tidak hanya menumbuhkan jiwa entrepreneurship santri, tetapi juga memperkuat kedaulatan ekonomi pesantren dan menciptakan ekosistem belajar yang menyatukan nilai ilmu, amal, dan kemandirian.
Perkembangan pesantren ini bukan hanya memperkuat ekosistem pendidikan lokal, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.
Spirit inilah yang menjadikan pesantren di kawasan transmigrasi bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan laboratorium kebangsaan, tempat nilai Islam, kebudayaan, dan keberagaman Indonesia menyatu dalam harmoni.
