“Di satu sisi aku sedih juga. Tapi di sisi lain aku merasa senang. Habil memilihku untuk menjadi kurban. Kebahagiaan apa yang melebihi kebahagiaan karena dipilih oleh seorang yang bertakwa?” domba gemuk melontar tanya.
“Kurban apa maksudmu?” tanya domba kurus.

“Karena Qabil menentang perintah ayahnya, akhirnya dibuatlah sayembara. Masing-masing dari Qabil dan Habil diminta berkurban. Dan tahukah kamu bahwa kurban yang diterima akan menjadi pemenang serta berhak menikahi Iqlima?”
“Mana kutahu? Tapi kenapa Habil bersedih? Apakah dia takut kehilangan Iqlima?” sahut domba kurus.
“Mungkin saja, siapa yang tak takut kehilangan orang yang dicintai? Tapi mungkin juga sedih karena berselisih itu. Kenikmatan apa yang melebihi kenikmatan sebuah persaudaraan? Ah, tapi siapa pun yang tidak bisa mendapatkan Iqlima memang pantas bersedih,” sahut domba gemuk yang memang dekat dengan Habil.
“Apakah kau juga ingin mendapatkan Iqlima? Jangan bodoh, kau hanyalah seekor domba!!”
Mereka pun tergelak di tengah kesiut angin sore lereng perbukitan yang sejuk.
Waktu pun terus berjalan. Waktu untuk mempersembahkan kurban pun tiba juga akhirnya. Qabil dan Habil berjalan menaiki bukit dengan membawa kurban masing-masing. Habil menuntun domba paling gemuk yang dimilikinya. Domba gemuk yang dielus-elus oleh Habil merasakan ketentraman luar biasa dalam jiwanya. Alangkah indahnya berjumpa dengan Dzat yang dikasihi, gumamnya dalam hati.
Sedangkan, di pihak lain Qabil dengan langkah yang jumawa berjalan menenteng seikat gandum paling buruk yang dimilikinya. Ketika berjalan matanya masih sempat meneliti gandum bawaannya. Dan tatkala ia menjumpai sebulir gandum yang besar di dalamnya, segera dia rontokkan lalu dimakannya gandum itu. Domba gemuk yang menyaksikan hal itu merasa jengah lantas mendengus kesal. Ingin suatu saat jika dia masih bisa berjumpa temannya akan ia ceritakan ulah Qabil yang menurutnya memantik emosi itu.
Ketika telah sampai di puncak bukit, detik-detik yang berlalu berubah menjadi begitu mendebarkan. Entah kurban milik siapa yang akan diterima nanti. Hal itu sempat membuat domba gemuk merasa cemas. Namun sekali lagi keteduhan Habil membuatnya merasa tenang. Domba gemuk memasrahkan semuanya pada Allah. Dan di tempatnya berdiri, Qabil begitu percaya diri akan dapat memenangkan kurban serta memperistri Iqlima yang kecantikannya diam-diam telah menyihir perasaannya sejak lama.
Nabi Adam kemudian berdoa kepada Allah untuk menentukan kurban mana yang diterima. Dan beberapa saat kemudian yang dinanti pun tiba, sekejap kemudian turun kilatan api dari langit menyambar domba gemuk yang merupakan kurban milik Habil. Sedangkan, kurban Qabil dibiarkan begitu saja tidak dimakan api. Walaupun api itu tidak mengenainya, tapi Qabil merasakan bara api yang begitu panas membakar hatinya. Habil telah nyata-nyata memencundanginya.
Melihat kurbannya tak tersentuh api, Qabil marah besar. Dengan langkah sempoyongan ia mendekati Habil sembari berbisik geram, “Apa kau akan berjalan dengan bangga di bumi ini dan orang-orang akan bilang kau lebih baik dariku? Aku benar-benar akan membunuhmu agar kamu jangan mengawini saudara perempuanku!”
Habil pun menyahut, “Apakah dosaku, Qabil? Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.”
