Namun, bait itu bukan panggilan untuk pasrah. Ia justru memperingatkan: dunia memang rentan rusak, maka siapa lagi kalau bukan kita yang menjaga? Dalam semangat itulah saya menulis ini. Bukan sebagai perayaan kemenangan, tapi sebagai pengingat. Penghentian tambang adalah kemenangan politik, tapi pemulihan tanah dan laut Raja Ampat adalah perjuangan jangka panjang. Dan dalam perjuangan panjang itu, santri harus turun tangan.
Tafsir Baru Amanah

Mungkin sudah saatnya kurikulum pesantren menyentuh tanah. Fikih air bukan hanya membahas air suci dan najis, tapi juga hak atas air bersih dan pencemaran sungai. Ilmu hisab bukan hanya untuk menentukan awal Ramadan, tapi juga untuk membaca pola iklim dan pasang-surut laut. Tauhid bukan hanya soal keesaan Tuhan, tapi juga soal keesaan ciptaan yang harus dijaga dari kerusakan.
Kita telah terlalu lama membayangkan santri sebagai makhluk langit yang tak menginjak bumi. Padahal, Nabi Muhammad sendiri adalah rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi semua alam. Tidak hanya rahmat bagi manusia. Tapi juga bagi laut, tanah, angin, dan semua yang tak bisa bersyahadat dengan lidah.
Suatu hari nanti, semoga tidak lama, saya ingin melihat santri-santri berjalan di Raja Ampat. Bukan sebagai wisatawan selfie, tapi sebagai penjaga. Sebagai pemulih. Membaca karang seperti membaca kitab suci yang lapuk di rak, lalu dibersihkan dan dihidupkan kembali.
Karena pada akhirnya, menyelamatkan alam bukan hanya soal lingkungan hidup. Tapi soal iman. Soal amanah yang ditolak oleh langit dan bumi, namun diterima oleh manusia. Dan di antara manusia, santri telah dididik untuk memikul amanah itu, walau berat, walau sunyi. Maka biarlah tambang berhenti. Tapi langkah santri jangan ikut berhenti.
Sumber foto: kompas.

Mantap mas