Si Badut dan Tangis Seorang Bocah

Hampir saja aku mengetik “Action!” di kolom chat Kadek, namun demi melihat apa yang terjadi di jalan, aku menghentikannya.

Di tepi jalan kulihat badut tadi bersimbah darah, dan ada beberapa sepeda motor terpelanting di sekitarnya. Dan yang membuatku menelan ludah berkali-kali adalah tangisan bocah itu yang meneriaki si badut yang tengah terkapar.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kau ngetik apa lama sekali???” tulis Kadek. Aku tak menghiraukan. Langkah kakiku telah membawaku ke jalan raya.

Dalam hitungan menit aku telah berada di dekat mayat si badut yang tergeletak bersimbah darah itu. Kostum badutnya tak lagi hijau, kini telah bercampur merah warna darah. Beberapa orang menenangkan bocah yang terus memanggil “Bapak-bapak” itu.

“Bagaimana dia bisa tertabrak?” celetuk seseorang.

“Dia lari mengejar selembar uang yang dijatuhkan seseorang,” tukas yang lain.

“Bapak-bapak!” anak itu masih terus berteriak.

Melihat mendung di wajahnya aku teringat pada anakku yang kini masih berada di sekolah, juga anak Surya yang tengah bersenang-senang di Pulau Dewata itu. Bagaimanakah kesedihan seseorang yang kehilangan orang tuanya? bisikku dalam hati.

Gawaiku bergetar. Kulihat pesan Kadek di sana.

“Makanan Surya sudah kububuhi racun sesuai pesananmu. Aku tak ingin makan gaji buta darimu. Terima kasih!”

Kupejamkan mata, dan ada segunung penyesalan yang terasa menusuk dadaku.

M, 28/9/22.

ilustrasi: istock.

One Reply to “Si Badut dan Tangis Seorang Bocah”

Tinggalkan Balasan