Zuhud di Era Milenial
Karena zuhud adalah perkara hati, di zaman milenial tidak menutup kemungkinan untuk berlaku zuhud. Bahwa di era digital ini, kita disibukkan dengan berbagai kegiatan dan program. Bukan berarti kita tidak bisa menjalankan sikap zuhud. Karena hakikat dari zuhud adalah abai terhadap dunia dan bersikap erat dengan kehidupan akhirat.

Zuhud bukan berarti harus miskin. Orang kaya pun dapat bersikap zuhud jika di dalam hatinya, harta yang dimiliki tidak dijadikan sebagai tujuan. Sebaliknya, orang miskin yang hatinya selalu tertanam dengan harta benda, maka sikap tersebut jauh dari sikap zuhud. Artinya, sebagai generasi digital, hendaknya bersikap zuhud dengan cara tidak menjadikan keduniaan sebagai tujuan. Akan tetapi, jadikan harta benda itu sebagai washilah (perantara) untuk lebih dekat kepada Allah swt. Membantu yang membutuhkan, tidak risau ketika harta benda hilang, serta menyerahkan segala takdir kepada Allah swt.
Berlatih menjadi zuhud adalah bagian dari zuhud itu sendiri. Melaksanakan kewajiban, seperti salat lima waktu, melaksanakan puasa Ramadan, membayar zakat, dan lain sebagainya adalah bagian dari riyadhah menuju sikap zuhud. Menghindari maksiat, tidak mencuri, tidak menghina, tidak melakukan ghibah, dan lain sebagainya juga bagian dari latihan menuju sikap zuhud yang sesungguhnya.
Karena zuhud itu perkara hati, maka tidak ada penghalang terhadap sikap zuhud apapun profesi yang kita lakukan. Ulama, ustaz, pebisnis, politikus, pejabat, youtuber, pelajar, santri, dan orang awam sekalipun dapat menjadi ahlu al-zuhd (pelaku zuhud). Semoga kita diberi kesadaran untuk selalu dekat dengan Allah swt dalam kondisi kenikmatan yang begitu paripurna. Aamiin!
Wallahu A’lam bis-Showab!
