Transformasi dari masyarakat agraris menuju masyarakat industri, masyarakat komunal menjadi masyarakat individual, dan masyarakat yang semula sangat mengandalkan tubuh untuk melakukan pekerjaan lalu mulai beralih dengan bergantung kepada teknologi, merupakan ciri dari majunya peradaban umat manusia.
Menukil pernyataan Yuval Noah Harari, dalam bukunya yang berjudul Sapiens: Sejarah Ringkas Umat Manusia dari Zaman Batu hingga Perkiraan Kepunahannya (Alvabet, 2017; terjemahan Yanto Musthofa), mengatakan bahwa arah evolusi perilaku manusia adalah dari organisme yang semula menyerahkan penilaian-penilaian ke tangan sosok abstrak semacam Tuhan menuju organisme yang menyerahkan penilaian-penilaian ke tangan sesuatu yang bernas dan konkret seperti algoritma.

Takdapat dimungkiri, teknologi menjadi suatu hal yang selalu mengiringi perkembangan kehidupan manusia. Kehidupan manusia yang berkembang akan membentuk peradaban manusia. Perkembangan tersebut turut mempengaruhi sendi-sendi kehidupan, termasuk cara berpikir manusia. Perkembangan akal manusia ekuivalen dengan perkembangan agama.
Bermula dari pemikiran dinamisme, manusia mulai berpikir adanya daya di balik sebuah benda. Benda-benda di alam semesta memiliki daya yang mesti dihormati. Daya kemudian berkembang menjadi roh. Maka, lahirlah kepercayaan animisme, yang mulai menyembah roh-roh nenek moyang.
Cara berpikir manusia terus berkembang. Politeisme menjadi jawaban atas adanya roh nenek moyang yang mendiami suatu benda, yang dipercaya sebagai dewa-dewa. Lama-kelamaan akal manusia semakin berkembang. Hingga pada akhirnya muncul kepercayaan adanya sosok maha atau yang paling tinggi. Hal tersebut menginisiasi kepercayaan monoteisme, bahwa hanya ada satu tuhan di alam semesta ini.
Pola pikir manusia senantiasa berkembang seiring melajunya zaman. Teknologi menjadi roda penggeraknya. Segala aspek kehidupan sontak mengalami revolusi besar-besaran.

One Reply to “Spirit Doll dan Kedunguan Berpikir”