Isi yang kosong, kosong yang isi.
Kami hanya muak kepada hamba itu, Tuhan
Yang tak menghamba kepada-Mu
Kami gemetar melihat hamba yang lain
Meneriaki nama-Mu – menelan peluru – lalu bisu

Ya, Tuhan!
Ya, Karim!
Di depan pengadilan agung-Mu
Kami berharap air mata itu tak lagi beraroma mesiu.
SELONGSONG PELURU
Seorang anak kecil,
Termenung di bawah reruntuh bangunan
Hati bertanya, apa yang ia pikirkan?
Barang kali bonekanya hilang
Atau teman yang usil,
Mengambil bola kesayangannya.
Tidak!
Seorang tua membentakku dekat kuping
Ia kehilangan seorang ibu, kali ini nadanya pelan
