Surat tentang Ibu Tiri

Ia juga sering berkabar tentang kotanya. Di kota itu ia benar-benar merasa hidup. Begitu hidup. Selalu saja, katanya, ada yang membuatnya tergetar. Juga gentar. Juga waswas. Atau resah dan terkikik-kikik. Sebuah kota yang kompleks namun intim. Sebuah kota, katanya, kadang-kadang memang harus lucu! Juga tengik! Atau semrawut dan hiruk. Kota tak harus selalu gagah, mentereng, wibawa, rapi, tertib, dan necis. Sebab, katanya, pada kota-kota seperti itu biasanya gagasan telah lama tidur dalam kubur. Dan hidup di kota di mana gagasan telah menjadi nisan, seperti hidup di bawah timbunan tanah makam. 

Ia, Nak, mengingatkan pada Athena, pada Yunani, sekitar empat ratus tahun sebelum Sang Penebus Dosa lahir di bumi ini. Aleksander Agung memang telah menaklukkannya. Tapi ia serta-merta tak menghancurkan Athena, tak mengubur Yunani —seperti kebiasaan kaum penakluk. Ketika menginjakkan kaki di tanah taklukannya itu, Aleksander baru paham kata-kata Aristoteles: bahwa Athena, bahwa Yunani, bukanlah sebuah kota atau negara, melainkan gagasan. Dan setiap gagasan akan selalu lebih besar dari orang yang melahirkannya. Dan, seorang Aleksander pun tergetar oleh kota yang dibangun di atas gagasan sebagai fondasinya. Itulah kenapa sebuah kota mesti dibangun, atau dipilih, dan kemudian kita menghuninya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Nak, entah kapan, pada saatnya aku ingin mengajakmu tinggal di sebuah kota yang setiap sudutnya adalah gagasan, bukan comberan —seperti kota di mana calon ibu tirimu kini tinggal. Di sana kau akan bisa tumbuh dan berkembang di antara lalu lintas gagasan yang, terkadang, akan membuatmu terus tergetar, terus gentar, juga waswas dan gelisah atau resah, terkikik atau terbahak, frustrasi atau yakin —karena setiap dentang lonceng akan selalu mengabarkan mungkinnya sebuah perubahan. Tidak seperti kota yang kini kutinggali: untuk sekadar tersenyum pun kita telah kehabisan ruang.

Tapi entahlah. Mungkin letak kota itu memang berada jauh di masa lalu atau nun di masa depan sana….

Tinggalkan Balasan