Syukur dalam Perspektif Al-Qur’an dan Psikologi

Di antara dimensi di atas terdapat beberapa bagian yang berhubungan langsung dengan hubungan sosial; bahwa psychological well–being selalu berakhir indah dalam membina hubungan sosial.

Dan memang demikian nyatanya; bahwa dalam psikologi positif, orang-orang yang memiliki kebiasaan dalam bersyukur kepada Tuhan memiliki kemampuan memahami jiwa dan batin orang lain dengan penuh empatik. Meskipun tidak memiliki banyak harta, orang yang bersyukur cenderung lebih dermawan dan rendah hati dibandingkan dengan orang-orang kaya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kaum yang bersyukur lebih cenderung untuk mengakui keyakinan akan keterkaitan seluruh kehidupan, serta rasa ikatan dan tanggung jawab terhadap orang lain. Pribadi-pribadi memiliki kebersyukuran cenderung memiliki sifat materialistis yang rendah. Mereka cenderung tidak menilai keberhasilan atau keberuntungan diri mereka sendiri dan orang lain dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.

Allah SWT juga berfirman dalam Q.S Al-Hajj, ayat 36 “Dan telah Kami jadikan unta-unta itu untuk kamu sebagai bagian dari syi’ar Allah, kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya. Maka sebutlah nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan sudah terikat). Kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan berilah makan kepada fakir miskin yang tidak meminta-minta dan yang meminta-minta. Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu untuk kamu, mudah-mudahan kamu bersyukur”

Dengan jelas Allah SWT dalam ayat tersebut menyinggung persoalan sosial. Bagaimana orang yang mendapatkan peruntukan nikmat dari Allah hendaknya memberikan bantuan kepada yang membutuhkan sebagai bentuk kepedulian sosial. Dan setelah itu, dalam ayat itu disebutkan bahwa peruntukan nikmat tersebut kepada manusia adalah agar mereka bersyukur.

Kesimpulan secara utuh adalah bahwa pemberian nikmat dari Allah hendaknya disyukuri. Namun, selain itu juga jangan lupa untuk tetap peduli sosial dengan hartanya itu. Nah, sikap peduli sosial inilah yang kemudian menjadi representasi dari syukurnya. Hal ini kembali lagi kepada prinsip awal bahwa narasi Al-Qur’an itu normatif, sementara psikologi positif itu deskriptif.

Namun, pada saat yang sama ketika psikologi positif menjelaskan syukur berdasarkan temuan fakta-fakta secara deskriptif dan menemukan kesimpulan bahwa ia dapat menarik kebahagiaan, sebagai salah satunya, ia juga menegaskan bahwa emosi juga harus dikontrol.

Kebahagiaan sebagai emosi positif harus selalu dijaga agar tidak menarik emosi positif seperti kesedihan. Dalam hal ini psikologi menjelaskan bahwa emosi penting untuk tetap dikontrol agar tidak merusak tatanan ekuilibrium atau homeostatis yang senantiasa menjaga keseimbangan kimiawi tubuh.

Tinggalkan Balasan