Tahun Baru Islam: Filosofi Hijrah

Dalam filsafat klasik, waktu sering dianggap sirkular—berulang seperti musim. Tapi Islam memandang waktu sebagai garis lurus, bergerak dari awal penciptaan menuju akhir kehidupan. Setiap detik adalah langkah menuju perjumpaan dengan Allah.

Karenanya, 1 Muharam bukan sekadar angka baru, tapi tanda bahwa hidup kita telah bergerak sejauh ini dan harus terus bergerak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Filsuf Muslim seperti Al-Ghazali pernah menulis dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din, bahwa siapa yang harinya hari ini sama seperti kemarin, maka ia tergolong merugi. Ini sejalan dengan prinsip filsafat bahwa waktu adalah ruang aktualisasi diri.

Sebagai santri, kita tidak hanya belajar kitab atau menghafal nazam. Kita juga belajar mengenali diri: man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu. Dan Tahun Baru Islam adalah waktu terbaik untuk kembali menyelami pertanyaan-pertanyaan lama: Siapa aku? Untuk apa aku hidup? Apa yang perlu aku ubah dalam diriku?

Praktik Filosofis

Tradisi muhasabah di malam pergantian tahun bukanlah ritual kosong. Ia adalah bentuk praksis filsafat Islam—merenung, memeriksa diri, dan menyusun ulang arah hidup. Dalam dunia Barat, Socrates pernah berkata, “Hidup yang tidak direnungkan tidak layak dijalani.” Dalam Islam, muhasabah adalah bagian dari takwa.

Di pesantren, kita sering diajak guru-guru untuk “mengevaluasi niat.” Bahkan sebelum belajar, niat adalah syarat sahnya ilmu. Maka, awal tahun adalah waktu muhasabah besar: bukan hanya niat dalam ibadah, tapi niat hidup kita secara keseluruhan. Apakah kita masih berjalan di jalan yang lurus? Ataukah kita justru sedang jauh dari makna?

Tinggalkan Balasan