Menurut Ta’lim, menjadi santri yang beradab merupakan hal yang urgen di ranah tatanan pendidikan yang akan membentuk stabilitas karakter dan kesuksesan seseorang. Itu kemudian diimbangi dengan nilai-nilai peradaban serta menerapkan norma yang sekiranya tetap berpegang teguh pada prinsip dan pola pikir kita tanpa sedikit pun mengubah tata krama sosio-kultural adat yang ada. Karena adab itulah yang akan menjadi induk dasar bagi para pelajar. Tanpa akhlak, warak, dan estetika maka para santri tak kan berarti di masyarakat.
Bagi santri, akhlak diyakini lebih tinggi derajatnya daripada ilmu. Sedikitnya sopan santun lebih berharga daripada banyaknya ilmu itu sendiri. Hal ini senada dengan pemikiran Syekh Abdul Qadir Jailani yang pernah mengatakan, “Aku lebih menghargai orang yang beradab ketimbang orang yang berilmu, karena kalau hanya berilmu setan pun lebih tinggi ilmunya dari pada manusia,” Maka dari situlah tugas kita sebagai santri harus menjunjung tinggi nilai-nilai pesantren yang diajarkan oleh para kiai, persis seperti yang diajarkan di dalam kitab Ta’limul Muta’allim yang diterjemahkan oleh Firdaus ini.

Pangabasen, 14-15 Oktober 2021.
Data Buku:
