Sejak itulah, ia menjadi orang yang selalu pergi dari rumahnya untuk menuju banyak tempat, tempat-tempat yang jauh. Tempat-tempat yang tak banyak dipikirkan. Bahkan mungkin telah dilupakan.
Di tempat-tempat baru itu, tempat yang baru ia kunjungi, ia selalu mengajak, dengan cara membujuk, orang-orang untuk membuat taman. Tak harus di tengah kota atau di lokasi-lokasi strategis. Bukan pula taman megah atau taman rekreasi yang ingin ia bangun. Cuma taman kecil dan sederhana, mungkin di sebidang tanah kosong atau pekarangan seberang rumah seseorang.

Yang penting ada tempat bagi orang-orang untuk duduk-duduk santai melepaskan kesumpekan, melepas penat, menghirup udara segar di alam terbuka, bercengkerama dan saling bertukar cerita. Atau mendiskusikan apa saja. Itulah taman-taman yang selalu ia coba bangun di banyak tempat.
Begitulah, di tempat-tempat jauh yang dikunjungi, ia akan menemui dan berkenalan dengan orang-orang di sana, lelaki-lelaki tua, perempuan-perempuan tua, orang-orang muda, atau para remaja. Semuanya. Kemudian ia akan mengajak mereka berdiskusi, dan membujuk, untuk mau membuat taman di tempat mereka sendiri. Yang penting ada sebidang tanah kosong, dan bisa ditanami tanaman bunga apa saja yang biasa tumbuh di situ. Tak senantiasa mudah, tapi pada akhirnya mereka selalu terbujuk.
Begitulah, sebidang tanah kosong di suatu tempat yang jauh itu akhirnya berubah menjadi taman. Ia, bersama orang-orang yang diajak membuat taman itu, sering duduk-duduk di situ, di taman yang baru mereka buat. Mereka, orang-orang di sana, senang karena kini mempunyai sebuah tamah. Di taman itulah mereka berkumpul, bersantai, bersenda gurau, berbagi cerita, tertawa bersama dengan bebasnya, di ruang terbuka. Sesekali mereka juga berdiskusi perkara serius. Sesekali kali pula mereka berjoget ria untuk merayakan apa yang perlu dirayakan. Ketika berada di taman itu, mereka serasa berada di surga.
Ya, kini, bagi mereka, taman itu serasa taman surga, menirukan kata-kata yang pernah diucapkannya dalam satu diskusi di taman itu: surga adalah buah dari apa yang kita tanam hari ini, dari apa yang kita buat hari ini.
Tahun-tahun berjalan, teman-taman surga itu akhirnya muncul di mana-mana, di tempat-tempat baru yang ia kunjungi. Mungkin ada di pinggiran kota Jayapura atau di pedalaman Papua. Mungkin ada pinggiran kota Kupang atau di ceruk-ceruk Pulau Flores. Mungkin ada di pinggiran kota Makassar atau di pekarangan orang-orang Bugis. Mungkin ada di pinggiran kota Banjar atau di dusun-dusun Kalimantan. Mungkin sudah terlupa berapa jumlah taman surga yang telah dibuat dan entah di mana saja.
Dari sanalah, setip kali pulang, ia membawa satu dua barang, atau benda-benda yang kini menyesaki rumahnya yang kuno itu.
***
