Lima belas menit berlalu, Hasan menelepon Sudir, tetapi hanya ‘memanggil’. Mereka kemudian melanjutkan kesibukan masing-masing. Agak lama, suara nyaring jangkrik semakin terdengar, dan waktu menunjukkan pukul 22.00 WIB. Itu berarti, mereka telah menunggu Sudir satu jam yang lalu. Hasan menelepon Sudir lagi, tetapi Sudir masih belum bisa dihubungi. Ia kemudian meminta Muhsin memulai musyawarah kitab. Dan musyawarah itu dimulai.
***

Sudir merasa, dia baru melakukan salat dua rakaat, tetapi semua yang ada dalam musala itu telah mewiridkan “Subhana al-Malikil Al-Kudus..” Dan Sudir pun terheran-heran. Ia mengamati seluruh jemaah dalam musala itu. Mereka semua khusuk menghadapkan wajah pada tempat sujud.
Tiba-tiba, Sudir sangat mengantuk. Ia mendongakkan wajahnya ke atas. Sudir sangat kaget. Persis pada wajahnya ditikam cahaya yang sangat cepat. Peristiwa itu menyebabkan ia tak sadarkan diri. Hanya gelap yang dirasakan Sudir. Tak tahu apa yang ia rasakan. Seperti ketika kita tertidur, tak punya kendali. Begitu lemahnya kita saat tidur, bangun-tidaknya adalah kehendak-Nya, bukan kekuasaan kita lagi. Begitu juga Sudir malam itu.
***
Setelah musyarawah, mereka begadang. Sahur bersama-sama di pos itu, salat Subuh berjamaah, baru kemudian pulang.
“Sudir paling ketiduran di rumah, Nir,” ucap Ahsan pada Munir.
“Mungkin, San. Tapi aku tahu dia tadi berangkat jamaah Isya, kok.”
“Lha kok aneh. Masak ketiduran di musala? Tapi tadi pas kita tarawih, ga ada dia kelihatan, kan?”
“Iya, mungkin nggak tarawih di musala, San. Besok juga ketemu,” pungkas Munir kemudian menghampiri masakan yang ia bawa dari rumah untuk sahur bersama. Mereka, secara bergantian, membawa makanan untuk sahur ke pos ronda saat musyawarah.
