Tasawuf Underground: Pesantren Anak Punk

Kita tahu bahwa salah satu prinsip dari anak punk adalah “anti kemapanan.” Hal ini menjadi tantangan tersendiri karena ketika prinsip dan jiwa mereka bergelut dengan dunia “permainan”, maka sulit untuk mengajak mereka ke jalan lebih baik. Diperlukan pendektan khusus, cara-cara manusiawi agar mereka berubah pikiran, bahwa kehidupan yang kita jalani merupakan ladang kebahagiaan. Maka sudah harus dibenahi sejak awal, agar kehidupan itu menemui kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.

Menurut Ustaz Halim, menggunakan kata hijrah bukan pilihan yang tepat. Terutama bagi anak punk dengan berbagai latar belakang yang menyebabkan mereka menjadi anak jalanan. Akan tetapi, Ustaz Halim lebih memilih menggunakan istilah “jalan pulang”. Artinya, bagaimana mereka mampu membangun peta perjalanan untuk kembali kepada Allah. Kemudian kembali kepada keluarga mereka sendiri dengan membawa perubahan yang dapat dipercaya. Juga, kembali kepada kehidupan yang sesungguhnya, berkehidupan sosial, berbaur dengan masyarakat secara formal dan normal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Jika jalan pulang itu diketahui, bukan tidak mungkin mereka akan menjadi pioner atau setidaknya diterima sebagai masyarakat kebanyakan di lingkungan mereka hidup. Berbenah dari kehidupan yang tanpa tujuan, menjadi seseorang yang memiliki arah tujuan hidup yang pasti. Berdikari di tengah kehidupan masyarakat serta tidak lagi dianggap sebagai sampah masyarakat.

“Saya merasa bangga dan teharu ketika mereka, anak-anak punk, yang semula tidak bisa baca Al-Quran, kini mampu membaca ayat-ayat suci itu. Jika semula mereka hidup dengan luntang-lantung, sekarang dapat berswa usaha dengan kemampuan mereka sendiri. Kebangaan yang luar biasa,” demikian Ustaz Halim Ambiya menuturkan keberhasilannya.

Pendekatan Humanis

Tinggalkan Balasan